Rara dan Tidak Membalas
![]() |
| Sumber Gambar: AI Generated |
"Saat sesuatu terasa tidak enak, kadang kita ingin mengembalikannya. Tapi tidak semua hal harus dikembalikan dengan cara yang sama."
Rara dan Tidak Membalas
Siang itu halaman sekolah cukup ramai.
Beberapa anak bermain kejar-kejaran. Ada yang duduk di bangku, ada yang berbagi makanan, dan ada juga yang hanya melihat dari jauh.
Rara berdiri di dekat pohon kecil di sudut halaman. Ia tidak sedang bermain. Ia hanya memperhatikan. Hari itu terasa biasa. Sampai sesuatu kecil terjadi.
Seseorang berlari dari belakang. Tidak terlalu cepat, tapi cukup untuk membuat bahu Rara tersenggol.
Rara sedikit terhuyung. Bukan jatuh. Tapi cukup membuatnya kaget. Anak itu berhenti. Ia menoleh, lalu tertawa kecil.
“Eh, kena ya,” katanya ringan.
Rara terdiam. Ia tidak terluka. Tapi ada rasa tidak enak yang datang tiba-tiba. Bukan di badan. Di hati.
Rara melihat anak itu. Anak itu tidak terlihat menyesal. Justru seperti menganggap itu hal biasa.
Rara tidak langsung bicara. Tapi kali ini, berbeda. Ada dorongan kuat di dalam dirinya.
Ia ingin melakukan hal yang sama. Menyenggol balik. Atau mengatakan sesuatu yang membuat anak itu juga merasa tidak enak. Pikiran itu datang cepat. Sangat cepat.
Rara menggerakkan kakinya sedikit. Seperti bersiap. Tapi ia berhenti. Ia ingat sesuatu. Perasaan tadi saat ia tersenggol tidak enak. Dan kalau ia melakukan hal yang sama berarti ia memberikan rasa itu ke orang lain.
Rara menunduk sebentar. Tangannya mengepal pelan. Ia masih punya pilihan. Membalas atau tidak.
Anak itu sudah kembali bermain. Seolah tidak terjadi apa-apa. Rara berdiri diam. Perasaannya belum hilang. Masih ada. Tapi ia tidak ingin menambahnya.
Rara menarik napas pelan. Ia melangkah menjauh dari tempat itu. Bukan karena kalah. Bukan karena takut. Tapi karena ia memilih untuk tidak ikut membawa rasa itu lebih jauh.
Rara duduk di bangku kosong di pinggir halaman. Ia memandang ke tanah.
“Kalau aku membalas apakah jadi lebih baik?” pikirnya.
Ia tidak menemukan jawabannya. Tapi hatinya tahu satu hal: Ia tidak ingin orang lain merasakan yang tadi ia rasakan. Dan itu cukup.
Beberapa saat kemudian, anak yang tadi menyenggolnya datang mendekat.
“Main yuk,” ajaknya.
Rara menoleh. Ia tidak marah. Tapi juga tidak langsung tersenyum. Ia hanya melihat.
Lalu berkata pelan, “Aku di sini dulu.”
Anak itu mengangguk, lalu pergi lagi. Rara kembali duduk.
Angin siang lewat pelan. Tidak banyak berubah. Tapi cukup membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Rara memegang tangannya sendiri. Tadi, ia hampir membalas. Hampir. Tapi ia tidak jadi. Dan anehnya Ia tidak merasa rugi.
Ia justru merasa lebih ringan. Tidak ada rasa menang. Tidak ada rasa kalah. Hanya tidak membawa sesuatu yang tidak baik lebih jauh.
Rara tersenyum kecil. Ia berdiri perlahan. Langkahnya ringan.
Hari itu tetap berjalan seperti biasa. Tapi di dalam dirinya, Rara tahu: Ia baru saja memilih sesuatu. Dan pilihan itu membuat hatinya tetap baik.
Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)
- Anak belajar bahwa tidak membalas adalah pilihan yang kuat
- Mengenalkan bahwa perasaan tidak enak tidak harus diteruskan ke orang lain
- Mengajarkan bahwa kebaikan tidak tergantung perlakuan orang lain
- Menanamkan sikap sabar dan tidak reaktif
- Membantu anak memahami bahwa menahan diri adalah kekuatan, bukan kelemahan
