Rara dan Hari Kosong
![]() |
| Sumber Gambar: Canva Edited |
"Ada hari yang tidak membawa apa-apa. Tidak tugas. Tidak rencana. Tapi justru memberi ruang untuk bernapas."
Rara dan Hari Tanpa Agenda
Pagi itu, Rara bangun lebih lambat dari biasanya. Tidak ada jam berbunyi. Tidak ada seragam disiapkan. Hari itu kosong.
Rara duduk di tepi tempat tidur. Ia menunggu perasaan ingin melakukan sesuatu. Tapi tidak ada yang datang. Ia berjalan ke dapur. Ibu sedang menyeduh teh.
“Hari ini mau apa?” tanya Ibu.
Rara berpikir lama.
“Aku tidak tahu.”
Ibu mengangguk.
“Baik.”
Tidak ada daftar kegiatan. Tidak ada jadwal.
Rara duduk di lantai ruang tamu. Ia melihat cahaya masuk lewat jendela. Biasanya, jam segini ia sudah terburu-buru. Sekarang, tidak.
Waktu terasa panjang. Rara mencoba membaca buku. Ia menutupnya lagi. Ia mencoba menggambar. Pensilnya berhenti di tengah. Rara merasa gelisah.
“Kenapa aku tidak melakukan apa-apa?” pikirnya.
Ia takut hari itu terbuang.Siang datang pelan. Suara kipas berputar.
Rara keluar rumah. Ia duduk di bawah pohon. Daun-daun bergerak tertiup angin. Rara menghitung napasnya. Satu. Dua. Ia tidak tahu kenapa, tapi dadanya terasa lebih ringan.
Sore hari, Rara membantu Ibu menyiram tanaman. Tidak diminta. Ia hanya melakukannya. Air mengalir pelan. Tanah menjadi basah.
Malam tiba. Rara menyadari sesuatu. Hari itu ia tidak melakukan hal besar. Tidak menyelesaikan tugas. Tidak menghasilkan apa-apa. Tapi ia merasa utuh.
Sebelum tidur, Rara menulis:
“Hari kosong tidak kosong.”
Ia mematikan lampu.
Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)
1. Waktu tanpa agenda adalah ruang pemulihan
Anak belajar bahwa tidak sibuk bukan berarti malas.
2. Makna tidak selalu datang dari produktivitas
Kehadiran diri sudah cukup.
3. Menghormati ritme alami anak
Anak tidak selalu siap diisi jadwal.
4. Kebosanan bisa menjadi pintu kesadaran
Dari kosong, muncul rasa.
5. Selaras dengan fase pasca produktif
Orang dewasa pun bisa belajar dari cerita ini.
.png)