Tiga Sekawan dan Kata yang Terlanjur Keluar
![]() |
| Sumber Gambar: AI Generated |
“Kata-kata mungkin hanya sebentar keluar dari mulut, tetapi perasaan yang ditinggalkannya bisa tinggal lebih lama.”
Pagi yang menyenangkan
Pagi itu Rara datang lebih awal ke rumah Naya.
Di tangannya ada sebuah kotak kecil.
“Aku membawa sesuatu!”
Naya segera mendekat.
“Apa itu?”
Rara membuka kotaknya.
Di dalamnya ada beberapa potongan kertas berwarna, benang, dan manik-manik kecil.
“Aku mau membuat gelang persahabatan.”
Naya tersenyum.
“Wah!”
Tidak lama kemudian Kiko datang.
Ia langsung melihat isi kotak itu.
“Buat apa?”
“Gelang,” jawab Rara.
“Buat apa?”
“Ya... gelang.”
“Buat apa pakai benang?”
Rara tertawa.
“Namanya juga gelang buatan sendiri.”
Kiko mengambil salah satu manik-manik.
“Kalau ini apa?”
“Jangan dimainkan dulu,” kata Rara. “Nanti hilang.”
Kiko segera meletakkannya kembali.
“Oke.”
Mereka bertiga duduk di teras.
Hari itu mereka ingin membuat tiga gelang yang sama.
Satu untuk Rara.
Satu untuk Kiko.
Satu untuk Naya.
Kiko punya ide
Kiko mulai memilih warna.
“Aku mau yang biru.”
“Aku mau yang kuning,” kata Naya.
Rara memilih warna hijau.
Kiko memperhatikan gelang Rara.
“Kenapa punya kamu sedikit sekali maniknya?”
“Karena aku mau sederhana.”
Kiko tertawa.
“Punyaku nanti paling bagus.”
Naya menoleh.
“Memangnya kamu sudah tahu?”
“Ya.”
“Belum selesai juga.”
“Pokoknya punyaku paling bagus.”
Rara tersenyum.
“Tidak harus paling bagus.”
Kiko tidak menjawab.
Ia sibuk memasukkan manik-manik ke benang.
Sebuah kesalahan kecil
Beberapa menit kemudian, Kiko berdiri untuk mengambil sesuatu.
Tangannya tidak sengaja menyenggol meja.
Kotak kecil milik Rara jatuh.
Bruk!
Manik-manik berhamburan ke lantai.
Rara terdiam.
Kiko juga terdiam.
Naya segera melihat ke bawah.
Beberapa manik-manik menggelinding sampai ke bawah kursi.
Rara mengambil kotaknya.
“Kan tadi aku sudah bilang jangan dimainkan.”
Kiko hendak menjawab.
Tetapi Rara lebih dulu berkata,
“Makanya kalau tidak bisa hati-hati, jangan ikut membuat gelang.”
Kiko menatap Rara.
Wajahnya berubah.
“Aku tidak sengaja.”
“Tapi tetap saja berantakan.”
“Aku kan sudah bilang tidak sengaja!”
Rara mengambil beberapa manik-manik.
Kiko berdiri.
“Ya sudah!”
Ia pergi ke ujung teras.
Naya melihat Kiko.
Kemudian melihat Rara.
Tidak ada yang berbicara.
Kata yang membuat hati terasa berat
Beberapa saat kemudian, Kiko kembali.
Ia membawa sapu kecil.
“Aku mau membersihkannya.”
Rara masih duduk.
“Aku sudah bersihkan sebagian.”
Kiko memandang lantai.
“Yang ini bagaimana?”
Rara menunjuk ke bawah kursi.
“Masih ada beberapa.”
Kiko mengambilnya satu per satu.
Setelah semuanya terkumpul, ia memasukkan manik-manik ke dalam kotak.
“Sudah.”
Rara mengangguk.
“Terima kasih.”
Tetapi Kiko tidak langsung pergi.
“Aku tadi memang tidak sengaja.”
Rara menatapnya.
“Iya.”
“Tapi kamu bilang aku tidak bisa hati-hati.”
Rara diam.
Kiko melanjutkan,
“Aku jadi sedih.”
Rara memandang kotak di tangannya.
Ia baru menyadari bahwa yang membuat Kiko diam bukan hanya karena manik-manik tadi berantakan.
Ada sesuatu yang lain.
Tidak semua yang benar perlu dikatakan dengan cara apa saja
Naya duduk di antara mereka.
“Rara...”
“Hmm?”
“Kalau Kiko memang tidak sengaja, mungkin dia tidak perlu dimarahi seperti tadi.”
Rara menunduk.
“Tapi aku sudah bilang supaya hati-hati.”
“Iya,” kata Naya. “Kamu benar soal harus hati-hati.”
Rara mengangkat kepala.
“Tapi?”
Naya berpikir sebentar.
“Mungkin cara mengatakannya bisa berbeda.”
Rara tidak menjawab.
Ia teringat wajah Kiko tadi.
Kiko memang membuat manik-manik berantakan.
Tetapi ia juga sudah membantu membersihkannya.
Dan ia benar-benar tidak sengaja.
Rara menarik napas.
“Kiko.”
Kiko menoleh.
“Ya?”
“Maaf.”
Kiko diam.
“Aku kesal karena manik-maniknya jatuh,” lanjut Rara. “Tapi aku seharusnya tidak mengatakan kamu tidak bisa hati-hati.”
Kiko menggaruk kepalanya.
“Aku juga maaf.”
“Karena menjatuhkannya?”
Kiko mengangguk.
“Dan karena tadi pergi.”
Rara tersenyum sedikit.
“Tidak apa-apa.”
Memperbaiki yang bisa diperbaiki
Naya mengambil benang yang tadi mereka gunakan.
“Kalau begitu, gelangnya dilanjutkan?”
Kiko duduk kembali.
“Boleh.”
Rara membuka kotaknya.
“Sekarang kita harus lebih hati-hati.”
Kiko mengangguk.
“Tapi aku punya ide.”
Rara dan Naya menatapnya.
“Bagaimana kalau kita buat gelangnya tidak sama?”
“Kenapa?” tanya Rara.
“Karena kita bertiga juga tidak sama.”
Naya tersenyum.
Rara memandang gelang yang sedang dibuatnya.
“Yang penting tetap dibuat bersama.”
Kiko mengangguk.
Mereka kembali bekerja.
Kiko memilih biru.
Naya memilih kuning.
Rara memilih hijau.
Tidak ada gelang yang sama.
Tetapi ketiganya dibuat dari kotak yang sama.
Kata-kata yang perlu dijaga
Menjelang siang, gelang mereka selesai.
Kiko mengangkat tangannya.
“Lihat!”
Gelang biru melingkar di pergelangan tangannya.
Naya menunjukkan gelang kuningnya.
Rara menunjukkan gelang hijau.
Kiko kemudian berkata,
“Rara.”
“Ya?”
“Kalau nanti aku ngomong sesuatu yang membuat kamu sedih, bilang ya.”
Rara tersenyum.
“Kenapa?”
“Supaya aku tahu.”
Naya ikut berkata,
“Kalau aku juga begitu, bilang saja.”
Rara mengangguk.
“Begitu juga kalau aku.”
Mereka bertiga saling melihat.
Kadang seseorang memang bisa mengatakan sesuatu tanpa bermaksud menyakiti.
Tetapi kata-kata tetap bisa membuat hati terasa sakit.
Karena itu, ketika salah, tidak perlu mencari alasan untuk membenarkan diri.
Ada saatnya cukup berkata:
“Aku salah. Maaf.”
Dan setelah itu, berusaha tidak mengulanginya.
Sebelum pulang
Kiko tiba-tiba berkata,
“Eh, kalau gelangnya putus bagaimana?”
Naya menjawab,
“Ya diperbaiki.”
“Kalau tidak bisa?”
“Cari cara lain.”
Rara tertawa.
“Seperti kemarin waktu hujan?”
Kiko ikut tertawa.
“Iya.”
Mereka mulai mengerti bahwa persahabatan juga seperti gelang buatan mereka.
Tidak selalu sempurna.
Kadang bisa berantakan.
Kadang ada yang salah.
Tetapi sesuatu yang rusak tidak selalu harus dibuang.
Kadang masih ada yang bisa diperbaiki.
Dan mereka bertiga masih belajar bagaimana caranya.
