Rara dan Cara Sendiri

Sumber Gambar: AI Generated

 "Tidak semua bunga mekar dengan cara yang sama. Tapi semuanya tetap indah dengan caranya sendiri."

Rara dan Cara Sendiri

Pagi itu kelas terasa lebih ramai dari biasanya. Guru meminta semua anak menggambar sesuatu yang mereka sukai. 

Ada yang langsung mengambil pensil. Ada yang bertanya dulu. Ada juga yang sudah punya ide sejak awal.

Rara duduk di bangkunya. Ia melihat kertas kosong di depannya. Putih. Tenang. Belum ada apa-apa. Di sekelilingnya, teman-temannya mulai menggambar. 

Ada yang menggambar rumah besar. Ada yang menggambar taman dengan banyak bunga. Ada juga yang menggambar mobil dan jalan panjang.

Rara melihat sebentar. Gambar mereka terlihat bagus. Rapi. Penuh warna.

Rara kembali melihat kertasnya. Ia memegang pensil. Tapi belum mulai.

“Aku mau gambar apa ya…” pikirnya.

Ia punya banyak hal yang ia sukai. Tapi tiba-tiba, semuanya terasa jauh.

Rara melirik lagi ke kanan. Temannya sudah hampir selesai. Warnanya cerah. Garisnya jelas. Rara melihat gambarnya sendiri.

Masih kosong. Di dalam hatinya, muncul rasa kecil. Bukan sedih. Bukan marah. Tapi seperti merasa tertinggal.

“Kalau gambarku tidak bagus…” pikirnya.

“Kalau tidak seperti yang lain…”

Tangannya sedikit ragu. Pensilnya belum menyentuh kertas. Rara menunduk. Ia menarik napas pelan. Ia ingat sesuatu.

Tentang waktu ia menggambar di rumah. Tentang gambar yang ia buat sendiri. Tentang perasaan tenang saat ia tidak melihat gambar orang lain.

Rara menutup matanya sebentar. Ia tidak melihat ke kanan. Tidak melihat ke kiri. Ia hanya kembali ke dirinya sendiri.

“Aku suka apa ya…” tanyanya pelan di dalam hati.

Jawabannya tidak datang dengan cepat. Tapi pelan mulai terasa. 

Ia ingat pohon kecil di halaman rumahnya. Ia ingat bangku tempat ia duduk sore hari. Ia ingat langit yang sering ia lihat.

Rara membuka mata. Ia mulai menggambar. Tidak cepat. Tidak rapi seperti yang lain. Tapi pelan. Satu garis. Lalu satu lagi. Ia tidak melihat ke sekitar lagi. Ia hanya melihat kertasnya sendiri. 

Gambarnya sederhana.  Ada pohon kecil. Ada bangku. Ada langit yang luas. 

Warnanya tidak banyak. Garisnya tidak sempurna. Tapi Rara terus melanjutkan. Tidak berhenti. Tidak membandingkan. Hanya menggambar.

Beberapa saat kemudian, waktu selesai. Guru meminta semua anak meletakkan pensil. Rara melihat gambarnya. 

Tidak seperti yang lain. Tidak paling rapi. Tidak paling penuh. Tapi ia tidak merasa kecewa. Ia hanya melihatnya. Tenang.

Guru berjalan mengelilingi kelas. Melihat satu per satu. Saat sampai di meja Rara, guru berhenti sebentar.

“Ini tempat yang kamu suka?” tanya guru.

Rara mengangguk.

“Iya.”

Guru tersenyum. 

“Terasa tenang,” katanya pelan.

Rara tidak berkata apa-apa.

Tapi hatinya terasa hangat. Bukan karena dipuji. Tapi karena ia menggambar sesuatu yang benar-benar dari dirinya.

Saat pelajaran selesai, Rara membawa pulang gambarnya. Ia tidak membandingkan dengan gambar teman-temannya. Ia hanya memegangnya. Pelan. 

Di rumah, ia meletakkan gambar itu di meja. Ia duduk di depannya. Melihat. Tidak sempurna. Tidak istimewa. Tapi cukup.

Rara tersenyum kecil. Ia tidak perlu menjadi seperti yang lain. Ia tidak perlu menjadi yang paling. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Dan itu sudah cukup.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa setiap orang punya cara yang berbeda
  2. Mengenalkan bahwa tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain
  3. Mengajarkan bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang cukup
  4. Menanamkan bahwa nilai seseorang tidak dilihat dari “paling” atau “terbaik”
  5. Membantu anak merasakan bahwa cukup membawa ketenangan

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url