Rara dan Rasa Lelah
![]() |
| Sumber Gambar: Canva Edited |
"Tubuh tahu kapan harus berhenti. Hati juga. Lelah adalah cara mereka berbicara."
Hari itu, Rara bangun dengan mata yang masih berat. Bukan karena ia tidur terlalu malam. Bukan juga karena ia sakit. Tubuhnya terasa lambat.
Rara duduk di tempat tidur lebih lama dari biasanya. Kakinya belum ingin turun ke lantai.
“Aku masih mau di sini sebentar,” katanya pelan.
Ibu memanggil dari dapur.
“Rara, ayo bersiap.”
Rara bangkit, tapi langkahnya tidak cepat. Ia berjalan ke kamar mandi, menyikat gigi dengan gerakan pelan. Air mengalir. Suara air membuatnya ingin duduk.
Di sekolah, Rara mengikuti pelajaran seperti biasa. Ia mendengarkan guru, menulis di buku, dan membaca soal. Namun hari itu, kepalanya terasa penuh lebih cepat. Tangannya pegal. Punggungnya ingin bersandar.
Saat istirahat, teman-temannya berlari ke halaman. Rara ikut keluar, tapi tidak berlari. Ia duduk di tangga kecil. Menarik napas. Menghembuskannya perlahan.
“Kamu tidak main?” tanya temannya.
Rara menggeleng.
“Aku capek.”
Temannya tertawa kecil.
“Baru juga istirahat.”
Rara tidak menjawab. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan rasa capeknya. Ia tidak berlari, tapi lelah. Ia tidak menangis, tapi ingin diam. Rasa itu membuatnya bingung.
Sepulang sekolah, Rara langsung duduk di sofa. Tasnya masih di punggung. Sepatunya belum dilepas. Ibu melihatnya.
“Kamu sakit?” tanya Ibu.
Rara menggeleng.
“Aku cuma capek.”
Ibu mengangguk.
“Kalau begitu, duduklah dulu.”
Rara duduk tanpa rasa bersalah. Ia tidak diminta berdiri. Tidak diminta cepat-cepat.
Sore itu, Rara tidak bermain seperti biasanya. Ia melihat awan lewat dari jendela. Satu. Lalu satu lagi. Waktu berjalan pelan.
Di dalam hatinya, Rara mulai mengerti sesuatu. Lelah bukan karena ia malas. Lelah karena tubuhnya sudah melakukan banyak hal.
Malam datang. Setelah makan, Rara membantu sedikit, lalu kembali ke kamarnya. Ia berbaring lebih awal. Lampu dipadamkan.
Di dalam gelap, Rara mendengar napasnya sendiri. Napas itu berat, tapi jujur. Ia tidak memaksakan diri untuk terjaga. Ia membiarkan matanya terpejam. Dan malam itu, Rara tidur lebih nyenyak. Besoknya, tubuhnya terasa lebih ringan. Rara bangun dengan senyum kecil.
Ia belajar satu hal sederhana: berhenti bukan menyerah. beristirahat bukan kalah.
Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)
1. Lelah bukan tanda malas
Anak belajar membedakan lelah dan enggan.
2. Tubuh perlu didengar
Anak diajak mengenali sinyal tubuh sejak dini.
3. Berhenti adalah bagian dari proses
Istirahat membantu anak kembali kuat.
4. Validasi lebih penting daripada dorongan
Anak merasa aman saat lelahnya dipercaya.
5. Menghormati batas diri
Anak belajar tidak memaksakan diri demi terlihat “rajin”.
