Rara dan Hati yang Didengar

 
Sumber Gambar: AI Generated

"Ada hal-hal yang tidak kita ucapkan, tapi tetap sampai ke tempat yang tepat."

Rara dan Hati yang Didengar

Pagi itu terasa sangat tenang.

Rara duduk di dekat jendela kamarnya. Cahaya pagi masuk pelan, menyentuh lantai dan dinding dengan warna yang hangat.

Ia tidak sedang bermain. Tidak juga membaca. Ia hanya duduk. Tangannya memeluk bantal kecil.

Sudah dua hari sejak ia menangis di dekat jendela saat hujan turun. Sejak itu, hatinya terasa berbeda. Lebih tenang. Tapi juga lebih peka.

Pagi ini, Rara teringat sesuatu. Tentang perasaannya kemarin. Tentang doa kecil yang ia ucapkan dalam hati. Tentang tangis yang datang tanpa alasan yang jelas. 

Rara tidak lupa. Ia masih ingat. Ia menunduk sedikit. Tangannya meremas bantal pelan.

“Waktu itu aku sedih…” pikirnya.

Ia tidak mengerti sepenuhnya kenapa. Tapi ia ingat bagaimana rasanya. Lalu Rara mengangkat wajahnya. Melihat ke luar jendela. 

Langit pagi terlihat cerah. Tidak ada hujan. Tidak ada angin kencang. Hanya tenang.

Rara menarik napas pelan. Di dalam hatinya, ia berkata lagi. Tidak keras. Tidak panjang. Hanya sederhana.

“Aku sekarang sudah lebih tenang…”

Ia tidak tahu kenapa ia mengatakan itu. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang mendengar dengan telinga. Tapi ia ingin mengatakannya.

Beberapa saat berlalu. Rara tetap duduk. Ia tidak menunggu jawaban. Ia juga tidak mencari sesuatu. Tapi di dalam hatinya ada rasa yang datang pelan. Bukan suara. Bukan kata.Tapi seperti dimengerti.

Rara mengerutkan sedikit keningnya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tidak ada yang berubah di luar. Tapi di dalam seperti ada yang tahu.

Tentang sedihnya kemarin. Tentang tangisnya. Tentang doanya. Dan tentang hari ini. 

Rara memegang dadanya pelan. Tidak sakit. Tapi hangat. Ia tersenyum kecil.

“Seperti ada yang tahu…” pikirnya.

Ia tidak melihat siapa-siapa. Tapi ia tidak merasa sendiri.

Rara berdiri. Ia berjalan keluar kamar. Langkahnya ringan. Di ruang tengah, Ibu sedang merapikan meja.

Rara mendekat. Tidak untuk bercerita. Hanya ingin berada di dekat. 

Ibu menoleh dan tersenyum. Rara membalas dengan senyum kecil. Lalu duduk di kursi. Ia tidak banyak bicara hari itu. Tapi ia juga tidak merasa kosong. Justru terasa penuh.

Bukan penuh dengan banyak hal. Tapi penuh dengan rasa yang tenang. Seperti ada sesuatu yang menjaga dari dalam.

Hari itu berjalan seperti biasa. Rara bermain. Rara belajar. Rara makan bersama. Tidak ada hal besar. Tidak ada kejadian istimewa. Tapi di dalam dirinya, ada perubahan kecil.

Ia tahu sekarang:

Saat ia sedih, ia bisa mengadu. Saat ia diam, tetap ada yang mendengar. Dan saat ia tidak tahu harus berkata apa hatinya tetap sampai.

Rara menutup hari itu dengan tenang. Ia berbaring di tempat tidur. Menarik selimut. Memejamkan mata.

Sebelum tidur, ia berkata lagi dalam hati, “Terima kasih…”

Tidak panjang. Tidak dijelaskan. Tapi cukup. Dan malam itu terasa sangat tenang.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa perasaan yang tidak diucapkan tetap bisa tersampaikan
  2. Mengenalkan bahwa Allah Maha Mendengar, bahkan tanpa kata
  3. Mengajarkan bahwa doa tidak harus selalu dengan suara atau kalimat panjang
  4. Menanamkan rasa tidak sendirian meski dalam diam
  5. Membantu anak merasakan bahwa hubungan dengan Allah itu dekat dan lembut

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url