Rara dan Waktu Tidur

Sumber Gambar: AI Generated

 

"Tidak semua hal bisa dilakukan sekarang. Ada waktu untuk bermain, dan ada waktu untuk berhenti."

Rara dan Waktu Tidur

Malam itu terasa menyenangkan.

Rara sedang duduk di ruang tengah. Ia bermain dengan kertas dan pensil warnanya. Ia menggambar rumah kecil dengan pohon di sampingnya. Ada langit, ada matahari, dan ada jalan kecil di depannya.

Ia belum selesai. Masih ada bagian yang ingin ia tambahkan. Mungkin bunga. Mungkin awan. Mungkin sesuatu yang belum ia pikirkan.

Di dapur, Ibu memanggil pelan,

“Rara… sudah waktunya tidur.”

Rara menoleh. Ia melihat jam di dinding. Jarumnya menunjuk angka yang sama seperti malam-malam sebelumnya.

Rara kembali melihat gambarnya. 

“Sebentar lagi, Bu,” jawabnya.

Ia menambahkan satu garis. Lalu satu lagi. Rasanya sayang untuk berhenti. Gambarnya belum selesai. 

Beberapa menit kemudian, Ibu kembali memanggil,

“Rara…”

Kali ini suaranya tetap lembut, tapi lebih dekat. Rara menarik napas kecil. Ia tahu maksudnya. Waktu bermain sudah selesai. Tapi di dalam hatinya, masih ada keinginan untuk melanjutkan.

“Kalau aku lanjut sedikit lagi… bagaimana ya…” pikirnya.

Rara melihat lagi jam di dinding. Jarumnya tidak berubah banyak. Tapi cukup untuk membuatnya mengerti.

Ia diam. Tangannya masih memegang pensil. Ada dua pilihan. Melanjutkan atau berhenti. Rara tidak marah. Tapi juga belum siap berhenti. Ia hanya merasa ingin sedikit lebih lama.

Ibu datang dan duduk di sampingnya. Melihat gambar Rara.

“Bagus sekali,” kata Ibu.

Rara tersenyum sedikit.

“Belum selesai,” jawabnya pelan.

Ibu mengangguk.

“Iya, belum selesai.”

Rara menatap gambarnya lagi.

“Kalau aku tidur sekarang… gambarnya belum jadi,” katanya.

Ibu tidak langsung menjawab.

Ia hanya berkata pelan,

“Tidak semua harus selesai hari ini.”

Rara terdiam. Ia memikirkan itu. Tidak semua harus sekarang. Kalimat itu terasa sederhana. Tapi membuatnya berhenti sejenak.

Rara menaruh pensilnya di meja. Pelan. Ia tidak merasa senang sepenuhnya. Tapi juga tidak merasa kesal. Seperti ada sesuatu yang sedang ia pelajari.

Ia berdiri. Merapikan kertasnya. Menutup kotak pensil. Tidak terburu-buru. Ibu tersenyum melihatnya.

Rara berjalan ke kamarnya. Lampu sudah menyala lembut. Tempat tidurnya rapi. Ia naik ke tempat tidur. Berbaring. Menarik selimut sampai ke dadanya. Ia menatap langit-langit.

“Gambarku belum selesai…” pikirnya lagi.

Tapi kali ini, rasanya tidak seberat tadi. Ia membayangkan besok. Ia masih bisa melanjutkan. Gambarnya tidak hilang. Hanya ditunda.

Rara menarik napas pelan. Ia mulai merasa mengantuk. Tubuhnya terasa lelah, meski tadi ia ingin terus bermain.

Ia memejamkan mata. Di dalam hatinya, ada rasa yang berbeda. Ternyata, berhenti bukan berarti kehilangan. Menunggu bukan berarti tidak boleh. Hanya belum sekarang.

Rara tertidur pelan. Malam berjalan seperti biasa. Tenang. Teratur. Dan pagi akan datang seperti biasa.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga
  2. Mengenalkan bahwa aturan adalah bagian dari keteraturan hidup
  3. Menanamkan bahwa menunggu bukan hal yang buruk
  4. Mengajarkan bahwa berhenti adalah bagian dari proses, bukan kegagalan
  5. Membantu anak merasa bahwa aturan memberi rasa aman, bukan hukuma


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url