Rara dan Menunggu Giliran
![]() |
| Sumber Gambar: AI Generated |
"Tidak semua bisa kita dapatkan lebih dulu. Kadang, kita perlu berhenti sejenakdan memberi ruang untuk orang lain."
Rara dan Menunggu Giliran
Pagi itu di sekolah terasa lebih ramai dari biasanya.
Di sudut halaman, ada satu tempat yang selalu disukai anak-anak. Sebuah keran air kecil dengan ember biru di bawahnya. Biasanya digunakan untuk mencuci tangan, tapi hari itu menjadi sedikit berbeda.
Beberapa anak berkumpul di sana. Mereka bermain air. Tidak berlarian. Tidak berisik. Hanya bergantian membuka keran, membasahi tangan, lalu tertawa kecil.
Rara melihat dari jauh. Ia tertarik. Ia berjalan mendekat. Saat sampai, ia melihat ada beberapa anak yang sudah berdiri di depan keran. Mereka bergantian. Satu selesai, satu maju.
Tidak ada yang berebut. Rara berdiri di belakang. Ia tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk melihat air yang mengalir pelan.
Ia ingin mencoba. Hanya sebentar. Membasahi tangan. Mungkin sedikit bermain air. Tapi di depannya, masih ada tiga anak.
Rara menunggu. Satu anak selesai. Lalu maju satu lagi. Air tetap mengalir.
Rara melihat tangannya sendiri. Ia ingin segera merasakan air itu. Dingin. Segar.
Ia melangkah sedikit lebih dekat. Tapi tetap di belakang. Anak di depannya bergerak pelan. Tidak cepat.
Rara mulai merasa sesuatu di dalam hatinya. Bukan marah. Tapi ingin lebih dulu.
“Kalau aku maju sedikit… mungkin bisa lebih cepat,” pikirnya.
Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada yang melarang. Tidak ada yang memperhatikan. Rara bisa saja melangkah ke depan. Sangat mudah. Tapi ia berhenti.
Ia melihat anak di depannya. Anak itu juga sedang menunggu. Sama seperti dirinya.
Rara menunduk sedikit. Ia menarik napas pelan. Ia tetap di tempatnya. Tidak maju. Tidak menyela. Ia hanya menunggu.
Waktu berjalan pelan. Air tetap mengalir. Satu anak selesai. Lalu satu lagi. Sekarang, tinggal satu orang di depan Rara.
Rara semakin dekat. Ia bisa mendengar suara air lebih jelas sekarang.
“Tinggal sebentar lagi…” pikirnya.
Ia tidak lagi merasa terburu-buru. Perasaannya berubah. Lebih tenang.
Saat gilirannya tiba, Rara maju. Ia membuka keran sedikit. Air mengalir mengenai tangannya. Dingin. Segar. Rara tersenyum kecil.
Ia tidak lama. Hanya beberapa detik. Lalu ia menutup keran. Ia mundur. Memberi ruang untuk anak di belakangnya.
Tidak ada yang berkata apa-apa. Tidak ada yang memberi pujian. Tapi di dalam hati Rara, ada rasa yang berbeda.
Menunggu tadi tidak membuatnya kehilangan apa-apa. Justru membuatnya lebih tenang saat mendapat giliran. Ia tidak terburu-buru. Tidak gelisah. Semua terasa pas.
Rara berjalan menjauh dari keran. Tangannya masih terasa dingin. Ia melihat anak lain yang sekarang sedang menunggu. Ia tersenyum kecil.
Ia mengerti sekarang. Tidak semua harus didapatkan lebih dulu. Ada waktunya. Dan saat waktunya datang rasanya lebih tenang.
Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)
- Anak belajar bahwa menunggu giliran adalah bagian dari keteraturan hidup
- Mengenalkan bahwa tidak semua harus didapatkan lebih dulu
- Mengajarkan sikap sabar dan tidak menyela orang lain
- Menanamkan bahwa aturan membuat semua menjadi adil
- Membantu anak merasakan bahwa menunggu bisa tetap tenang dan menyenangkan
