Tiga Sekawan dan Giliran yang Dinanti
![]() |
| Sumber Gambar: AI Generated |
“Menunggu memang tidak selalu mudah. Namun, ada hal-hal baik yang hanya bisa ditemukan ketika kita bersedia menunggu.”
Sesuatu yang Menarik
Hari Sabtu pagi, Rara, Kiko, dan Naya bermain di halaman sekolah.
Hari itu tidak ada kegiatan belajar.
Mereka hanya ingin bermain sebelum dijemput orang tua masing-masing.
Di dekat taman, sekolah baru saja memasang sebuah meja kecil.
Di atas meja itu ada beberapa pot tanaman, tanah, dan alat-alat berkebun.
Kiko langsung mendekat.
“Ini untuk apa?”
Naya membaca tulisan kecil yang ditempel di meja.
“Menanam bibit.”
Kiko semakin mendekat.
“Boleh mencoba?”
“Sepertinya boleh,” jawab Rara.
Di samping meja terdapat sebuah kotak berisi beberapa bibit tanaman.
Seorang guru datang membawa sekop kecil.
“Siapa yang ingin mencoba menanam?”
Kiko langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi.
“Saya!”
Rara dan Naya tertawa.
“Kamu memang paling cepat,” kata Naya.
Kiko tersenyum lebar.
“Saya sudah tahu mau menanam yang mana.”
Harus Menunggu Giliran
Guru memberikan satu sekop kepada Kiko.
“Silakan menunggu giliran setelah temanmu selesai.”
Kiko melihat seorang anak yang sedang menggunakan sekop.
“Berapa lama?”
“Sebentar,” jawab guru.
Kiko berdiri di samping meja.
Ia memperhatikan sekop itu.
Kemudian melihat bibit.
Kemudian melihat tanah.
Lalu melihat lagi sekop yang sedang digunakan.
“Sudah?”
Anak itu menggeleng.
Kiko kembali menunggu.
Beberapa saat kemudian, ia bertanya lagi.
“Sekarang?”
“Belum,” jawab Rara.
Kiko menghela napas.
“Aku sudah siap.”
Rara tersenyum.
“Siap bukan berarti langsung mendapat giliran.”
Kiko memandang Rara.
“Kenapa?”
“Karena sekarang masih giliran orang lain.”
Kiko diam.
Ia sebenarnya tahu jawaban itu.
Tetapi tetap saja menunggu terasa lama.
Ada banyak hal yang ingin dilakukan
Kiko mulai berjalan mondar-mandir.
Ia melihat bunga.
Melihat batu.
Melihat semut yang berjalan di dekat kakinya.
Lalu kembali ke meja.
“Sekarang?”
Naya tertawa kecil.
“Kiko, kamu baru pergi sebentar.”
“Tapi aku sudah lama menunggu.”
Rara melihat jam.
“Baru tiga menit.”
“Tiga menit itu lama.”
Naya mengangguk.
“Kalau sedang menunggu, memang terasa lama.”
Kiko duduk di bangku.
Ia mencoba tidak melihat meja.
Tetapi beberapa detik kemudian, ia melihat lagi.
Sekop masih belum kosong.
Kiko mengembuskan napas panjang.
Ketika Menunggu Terasa Sulit
Akhirnya anak yang menggunakan sekop selesai.
Kiko langsung berdiri.
“Nah!”
Ia hampir mengambil sekop itu ketika seorang anak lain datang.
“Sekarang giliranku.”
Kiko berhenti.
“Tapi tadi aku sudah menunggu.”
Anak itu menunjuk ke arah guru.
“Bu Guru bilang setelah dia, aku.”
Kiko menoleh kepada guru.
Guru mengangguk.
“Benar. Setelah temanmu selesai, baru Kiko.”
Kiko kembali duduk.
Wajahnya mulai murung.
“Kenapa semua orang dapat giliran lebih dulu?”
Rara duduk di sampingnya.
“Bukan semua orang.”
“Rasanya begitu.”
Naya ikut duduk.
“Kalau kamu mengambil giliran temanmu, bagaimana perasaanmu kalau kamu yang sedang menunggu?”
Kiko tidak menjawab.
Ia menatap tanah di bawah sepatunya.
Ia membayangkan dirinya sudah memegang sekop, tetapi tiba-tiba ada orang lain yang mengambilnya.
Rasanya pasti tidak menyenangkan.
Menunggu Bukan Berarti Diam
Kiko kembali melihat meja.
Kemudian ia melihat sesuatu di sudut halaman.
“Eh!”
Ia berdiri.
“Ada apa?” tanya Rara.
Kiko menunjuk beberapa pot kecil.
“Tanaman yang itu belum disiram.”
Naya mendekat.
“Memang boleh?”
Mereka bertanya kepada guru.
Guru mengangguk.
“Kalian bisa menyiramnya menggunakan penyiram kecil itu.”
Kiko segera mengambil penyiram.
Kali ini ia tidak perlu menunggu lama karena memang sedang tidak digunakan.
Ia menyiram tanaman satu per satu.
Tidak terlalu banyak.
Tidak terlalu sedikit.
Rara memperhatikan.
“Kamu sekarang hati-hati sekali.”
Kiko tersenyum.
“Aku sedang belajar.”
“Belajar apa?”
“Menunggu.”
Rara dan Naya saling memandang.
Kiko melanjutkan pekerjaannya.
Ia masih sesekali melihat ke arah meja.
Namun kali ini ia tidak bertanya.
Akhirnya Tiba Gilirannya
Tidak lama kemudian, anak yang sedang menanam selesai.
Guru memanggil Kiko.
“Kiko, sekarang giliranmu.”
Kiko langsung berlari kecil.
Kemudian ia berhenti.
Ia melihat anak lain yang berdiri di belakangnya.
“Setelah aku siapa?”
“Setelah Kiko, Naya,” jawab guru.
Kiko mengangguk.
Ia mengambil sekop.
“Baik.”
Kiko mulai menggali tanah.
Kali ini ia tidak terburu-buru.
Ia membuat lubang kecil, memasukkan bibit, lalu menutupnya dengan tanah.
Rara memperhatikan.
“Bukankah tadi kamu bilang ingin cepat?”
Kiko mengangguk.
“Iya.”
“Sekarang kenapa pelan?”
Kiko berpikir.
“Karena kalau terlalu cepat, bibitnya bisa rusak.”
Naya tersenyum.
“Ternyata menunggu membuatmu punya waktu untuk memperhatikan.”
Kiko memandang bibit kecil di tangannya.
“Mungkin.”
Setiap Hal Memiliki Waktunya
Setelah selesai menanam, Kiko menyiram bibit itu.
Ia kemudian membuat sebuah tanda kecil dari kayu.
Di atasnya ia menulis:
Kiko.
Rara tertawa.
“Kenapa diberi nama?”
“Supaya aku ingat.”
“Mengingat apa?”
Kiko berpikir sebentar.
“Bahwa tanaman ini tidak bisa langsung besar.”
Naya mengangguk.
“Benar.”
Kiko memandang tanaman kecil itu.
“Padahal aku ingin melihat bunganya sekarang.”
Rara berkata,
“Tidak bisa.”
Kiko menghela napas.
“Harus menunggu lagi?”
“Sepertinya begitu.”
Kiko memandang tanaman itu beberapa saat.
Lalu tersenyum.
“Baiklah.”
Ia tidak tahu kapan tanaman itu akan tumbuh besar.
Tidak tahu kapan bunganya akan muncul.
Tetapi ia tahu bahwa ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu.
Seperti tanaman yang baru saja ditanam.
Seperti sebuah keterampilan yang sedang dipelajari.
Dan mungkin juga seperti dirinya sendiri.
Tiga Sekawan Pulang
Ketika waktu bermain selesai, mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
Kiko tiba-tiba berkata,
“Rara.”
“Ya?”
“Menunggu itu tetap tidak enak.”
Rara tertawa.
“Aku tahu.”
“Tapi ternyata tidak selalu sia-sia.”
Naya tersenyum.
“Kenapa?”
Kiko menunjuk tangannya.
“Karena sekarang aku punya tanaman.”
Rara melihat tanda kecil bertuliskan nama Kiko.
“Kalau nanti tanamannya mati bagaimana?”
Kiko terdiam.
Kemudian menjawab,
“Ya, aku coba lagi.”
Mereka bertiga tertawa.
Mereka belum tahu apakah tanaman itu akan tumbuh besar.
Tetapi mereka tahu satu hal.
Ada sesuatu yang bisa dilakukan sambil menunggu.
Berusaha. Merawat. Bersabar.
Dan ketika hasilnya belum terlihat, mereka tetap dapat percaya bahwa setiap sesuatu memiliki waktunya sendiri.
Tamat.
