Tiga Sekawan dan Hari yang Berbeda
“Tidak semua yang tumbuh harus menjadi sama. Setiap kehidupan memiliki waktunya sendiri untuk berkembang.”
Hari yang Tidak Biasa
Pagi itu, Rara datang ke sekolah dengan membawa sebuah kertas.
Kiko sudah menunggunya di halaman.
“Nanti kita bermain, ya!”
Rara mengangguk.
“Boleh.”
Naya datang beberapa saat kemudian.
Ia membawa sebuah kotak kecil.
“Aku membawa sesuatu.”
Kiko langsung mendekat.
“Apa?”
“Rahasia.”
Kiko tertawa.
“Kenapa semua orang punya rahasia?”
Rara ikut tertawa.
Mereka bertiga kemudian masuk ke kelas.
Hari itu Bu Guru membawa mereka ke halaman belakang sekolah.
Di sana terdapat beberapa tanaman kecil yang sudah mereka tanam beberapa minggu sebelumnya.
“Coba lihat,” kata Bu Guru.
Kiko berlari mendekat.
“Tanamanku!”
Ia menunjuk sebuah pot kecil.
Tanaman di dalamnya sudah memiliki beberapa daun.
Rara melihat tanamannya.
Daunnya lebih sedikit.
Naya memperhatikan tanamannya.
Tanamannya justru terlihat lebih tinggi.
Kiko membandingkan ketiganya.
“Punyaku paling banyak daunnya.”
Naya tersenyum.
“Punyaku lebih tinggi.”
Rara melihat potnya.
“Punyaku paling kecil.”
Kiko tertawa.
“Berarti tanamanku paling bagus.”
Tidak Semuanya Tumbuh dengan Cara yang Sama
Rara memandangi tanamannya.
Ia merasa sedikit kecewa.
“Kenapa punyaku tidak seperti punya kalian?”
Kiko menjawab,
“Mungkin kamu kurang menyiramnya.”
Rara langsung melihatnya.
“Aku sudah menyiram.”
“Mungkin kurang banyak.”
Naya mendekat.
“Belum tentu.”
Kiko bertanya,
“Kenapa?”
Naya menunjuk ketiga pot.
“Ketiganya mendapat air yang sama.”
Rara memperhatikan.
“Terus kenapa tumbuhnya berbeda?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Ada yang lebih cepat
Kiko memegang salah satu daun tanamannya.
“Kalau begini, berarti tanamanku paling bagus.”
Bu Guru yang sejak tadi mendengarkan tersenyum.
“Apakah yang paling tinggi selalu paling baik?”
Kiko berpikir.
“Tidak tahu.”
“Setiap tanaman bisa tumbuh dengan cara yang berbeda,” kata Bu Guru.
Rara melihat tanaman kecil miliknya.
Naya juga memperhatikan tanaman yang lebih tinggi.
Ketiganya berbeda.
Tetapi ketiganya tetap hidup.
Seperti Anak-Anak
Saat kembali ke kelas, Kiko masih memikirkan tanaman mereka.
“Rara.”
“Ya?”
“Kalau tanaman saja berbeda, anak-anak juga begitu?”
Rara mengangguk.
“Mungkin.”
Naya tersenyum.
“Memangnya kamu baru tahu?”
Kiko tertawa.
“Aku baru memikirkannya.”
Ia kemudian melihat Rara.
“Rara pandai menggambar.”
Rara tersenyum.
“Kiko pandai mencari cara.”
Naya berkata,
“Dan kamu pandai melihat sesuatu dari banyak sisi.”
Kiko menoleh kepada Naya.
“Kamu juga.”
Naya mengangkat bahu.
“Kadang.”
Mereka bertiga tertawa.
Tidak perlu menjadi seperti teman
Hari itu mereka mendapat tugas menggambar sesuatu yang mereka sukai.
Rara menggambar sebuah taman.
Kiko menggambar sebuah kendaraan yang belum pernah ia lihat.
Naya menggambar tiga anak yang sedang duduk di bawah pohon.
Setelah selesai, mereka saling melihat gambar.
Kiko memperhatikan gambar Rara.
“Bagus.”
Rara melihat gambar Kiko.
“Aku tidak tahu itu kendaraan apa.”
Kiko tertawa.
“Aku juga belum tahu.”
Naya melihat keduanya.
“Kamu menggambar sesuatu yang belum ada?”
Kiko mengangguk.
“Kalau belum ada, aku buat sendiri.”
Rara tersenyum.
Sementara itu, Naya melihat gambarnya sendiri.
Ia merasa gambarnya tidak sebagus milik Rara.
Ia hampir menyembunyikannya.
Tetapi Rara sudah melihat.
“Bagus, Naya.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Kiko ikut melihat.
“Aku suka pohonnya.”
Naya tersenyum.
Mereka tidak membuat gambar yang sama.
Tidak memiliki kemampuan yang sama.
Tidak menyukai hal yang sama.
Tetapi mereka tetap bisa menikmati hasil karya masing-masing.
Ketika Membandingkan Diri
Saat istirahat, Naya duduk di bawah pohon.
Ia masih memikirkan gambarnya.
Rara datang menghampiri.
“Kamu kenapa?”
“Aku tadi melihat gambarmu.”
“Kenapa?”
“Gambarmu lebih rapi.”
Rara menggeleng.
“Tidak juga.”
“Punyamu bagus.”
“Punyamu juga.”
Naya tersenyum.
“Aku ingin bisa menggambar seperti kamu.”
Rara berpikir sebentar.
“Aku juga kadang ingin bisa melakukan sesuatu seperti kamu.”
“Seperti apa?”
Rara menjawab,
“Kamu bisa memikirkan banyak kemungkinan.”
Naya tertawa.
“Kiko juga begitu.”
“Tapi Kiko terlalu cepat.”
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Aku dengar!”
Rara dan Naya tertawa.
Kiko duduk bersama mereka.
“Aku memang cepat.”
Lalu ia berkata,
“Tapi kadang aku ingin bisa seperti Rara.”
Rara menatap Kiko.
“Kenapa?”
“Karena kamu bisa duduk diam dan memperhatikan sesuatu lama sekali.”
Kiko tertawa kecil.
“Aku belum bisa.”
Allah Menciptakan Perbedaan
Mereka bertiga kemudian terdiam.
Rara melihat daun-daun yang bergerak tertiup angin.
Kiko memperhatikan seekor kupu-kupu yang terbang di kejauhan.
Naya melihat gambar di tangannya.
Tiba-tiba Kiko berkata,
“Kalau semua anak sama, pasti membosankan.”
Rara tersenyum.
“Bagaimana kalau semua orang bisa melakukan hal yang sama?”
“Tidak ada yang bisa mengajari orang lain.”
Naya mengangguk.
“Tidak ada yang perlu belajar dari teman.”
Mereka bertiga kemudian melihat satu sama lain.
Mungkin memang ada alasan mengapa manusia tidak diciptakan dengan kemampuan yang sama.
Ada yang cepat.
Ada yang teliti.
Ada yang banyak bertanya.
Ada yang senang mendengarkan.
Ada yang berani mencoba.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Semua memiliki kelebihan dan kekurangan.
Dan semuanya adalah bagian dari kehidupan yang Allah ciptakan.
Bersyukur bukan berarti merasa paling hebat
Kiko mengangkat tangannya.
“Kalau aku punya sesuatu yang lebih, berarti aku paling hebat?”
Rara menggeleng.
“Belum tentu.”
Naya berkata,
“Mungkin justru harus lebih banyak bersyukur.”
Kiko berpikir.
“Kenapa?”
“Karena kemampuan itu bukan hanya untuk dibanggakan.”
Rara menambahkan,
“Bisa dipakai untuk membantu.”
Kiko mengangguk.
Ia kemudian melihat Rara dan Naya.
“Kalau aku menemukan cara bermain baru, aku ajari kalian.”
Rara tersenyum.
“Kalau aku menemukan cara menggambar yang mudah, aku ajari kalian.”
Naya berkata,
“Kalau aku punya ide, kita pikirkan bersama.”
Kiko tertawa.
“Jadi kita memang berbeda.”
“Tetapi tetap bersama,” jawab Rara.
Kembali ke Tiga Tanaman
Sebelum pulang, mereka kembali melihat tanaman di halaman.
Kiko memperhatikan tanamannya.
Daunnya memang paling banyak.
Tanaman Naya lebih tinggi.
Tanaman Rara masih kecil.
Kiko bertanya,
“Menurut kalian, mana yang akan tumbuh paling besar?”
Rara menggeleng.
“Tidak tahu.”
Naya berkata,
“Belum tentu yang sekarang paling besar akan terus paling besar.”
Kiko mengangguk.
“Berarti kita lihat saja nanti.”
Mereka bertiga tertawa.
Tidak ada yang tahu tanaman mana yang akan tumbuh paling tinggi.
Tidak ada yang tahu kapan bunganya akan muncul.
Mereka juga tidak tahu akan menjadi seperti apa ketika sudah besar nanti.
Tetapi mereka tidak harus mengetahui semuanya sekarang.
Mereka masih punya banyak waktu untuk tumbuh.
Hari yang Berbeda
Ketika berjalan pulang, Rara berkata,
“Dulu aku pikir kalau berbeda itu berarti ada yang lebih baik.”
Kiko menoleh.
“Sekarang?”
“Sekarang aku pikir berbeda ya berbeda.”
Naya tersenyum.
“Tidak harus dibandingkan.”
Kiko mengangguk.
“Seperti tanaman.”
“Seperti kita,” kata Rara.
Mereka berjalan bersama sampai ke gerbang.
Hari itu tidak ada permainan besar.
Tidak ada petualangan.
Tidak ada sesuatu yang luar biasa.
Hanya tiga anak yang melihat tanaman, menggambar, berbicara, dan pulang bersama.
Tetapi mungkin memang begitu kehidupan.
Tidak semua hari harus istimewa untuk menjadi berarti.
Tidak semua anak harus tumbuh dengan cara yang sama.
Tidak semua kemampuan harus dimiliki sekaligus.
Dan tidak semua hal tentang masa depan harus diketahui hari ini.
Yang dapat dilakukan adalah menjalani hari yang ada.
Belajar.
Berusaha.
Bersyukur.
Dan terus tumbuh dengan cara yang Allah tetapkan bagi masing-masing.
Rara, Kiko, dan Naya berjalan pulang.
Tiga anak.
Tiga cara melihat dunia.
Tiga cara belajar.
Tetapi tetap tiga sekawan.
Tamat.
Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI berdasarkan konsep cerita.
