Tiga Sekawan dan Kabar yang Belum Pasti
![]() |
| Sumber Gambar: AI Generated |
“Tidak semua yang terlihat seperti sebuah jawaban benar-benar memberikan kita seluruh cerita.”
Sebuah Bisikan
Hari itu Rara, Kiko, dan Naya sedang berada di sekolah.
Saat jam istirahat, mereka duduk di bawah pohon sambil membuka bekal.
Kiko membawa roti.
Naya membawa buah.
Rara membawa nasi dan telur.
Tiba-tiba seorang teman mereka, Sinta, datang menghampiri Naya.
“Naya, nanti ikut aku sebentar, ya.”
Naya mengangguk.
“Baik.”
Sinta kemudian membisikkan sesuatu kepada Naya.
Rara tidak dapat mendengarnya.
Setelah itu, Naya berdiri dan mengikuti Sinta.
Rara memperhatikan mereka sampai menghilang di balik gedung sekolah.
Kiko masih sibuk dengan rotinya.
Rara bertanya,
“Kiko.”
“Hmm?”
“Kamu tahu mereka mau ke mana?”
Kiko menggeleng.
“Tidak.”
Rara memandang ke arah gedung.
Rara mulai berpikir
“Menurutmu, kenapa Sinta membisikkan sesuatu kepada Naya?”
Kiko menggigit rotinya.
“Mungkin ada sesuatu.”
“Apa?”
“Mana aku tahu.”
Rara terdiam.
Ia mulai memikirkan banyak kemungkinan.
Mungkin Sinta ingin mengajak Naya bermain tanpa dirinya.
Mungkin mereka punya rahasia.
Mungkin Naya memang lebih suka bermain dengan Sinta.
Rara menunduk.
Tiba-tiba bekalnya tidak terasa seenak tadi.
Kiko memperhatikan Rara.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kok diam?”
Rara menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Tetapi sebenarnya ada banyak hal di kepalanya.
Dugaan yang Terasa Seperti Kenyataan
Setelah istirahat selesai, Naya kembali ke kelas.
Ia duduk di sebelah Rara seperti biasa.
Rara hanya diam.
Naya bertanya,
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Benarkah?”
Rara mengangguk.
Naya kemudian membuka buku.
Rara memperhatikannya.
Ia ingin bertanya.
Tetapi ia takut jawabannya akan membuatnya semakin sedih.
Akhirnya Rara memilih diam.
Saat pelajaran selesai, Kiko menghampiri mereka.
“Ayo ke perpustakaan!”
Naya mengangguk.
Rara tidak langsung berdiri.
“Kamu tidak mau?” tanya Naya.
Rara menjawab,
“Mau.”
Tetapi langkahnya terasa berat.
Sesuatu yang belum diketahui
Di perpustakaan, Naya mengambil beberapa buku.
Rara melihatnya.
“Kamu mencari buku apa?”
“Buku cerita.”
“Untuk apa?”
Naya tersenyum.
“Nanti juga tahu.”
Rara semakin penasaran.
Ia ingin bertanya, tetapi urung.
Dalam perjalanan pulang, Rara terus memikirkan kejadian tadi.
Akhirnya ia berkata kepada Kiko,
“Aku rasa Naya punya rahasia.”
Kiko berhenti berjalan.
“Rahasia apa?”
“Entahlah.”
“Kalau tidak tahu, kok bisa bilang rahasia?”
Rara terdiam.
Kiko menggaruk kepalanya.
“Kalau menurutku, kita belum tahu apa-apa.”
Rara menatap Kiko.
“Tapi tadi Sinta membisikkan sesuatu.”
“Iya.”
“Dan Naya tidak memberitahuku.”
Kiko mengangkat bahu.
“Mungkin memang belum waktunya memberitahu.”
Rara masih belum yakin.
Bertanya Sebelum Menyimpulkan
Keesokan harinya, Rara akhirnya memutuskan untuk bertanya.
Saat mereka sedang duduk bersama, Rara berkata,
“Naya.”
“Ya?”
“Boleh aku bertanya?”
Naya mengangguk.
“Kemarin kamu pergi bersama Sinta. Sebenarnya ada apa?”
Naya terlihat terkejut.
“Oh, itu.”
Rara menunggu.
“Sinta meminta bantuanku.”
“Membantu apa?”
Naya membuka tasnya.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan sebuah buku gambar.
Di dalamnya terdapat banyak gambar.
Ada gambar pohon.
Ada gambar rumah.
Ada gambar bunga.
Dan ada gambar tiga anak yang sedang duduk bersama.
Rara memperhatikan gambar itu.
“Ini gambar kita?”
Naya mengangguk.
“Iya.”
“Untuk apa?”
“Sinta sedang menyiapkan hadiah untuk Bu Guru. Dia meminta aku memilih gambar yang paling bagus.”
Rara terdiam.
“Jadi... kemarin bukan rahasia?”
Naya menggeleng.
“Bukan.”
Rara menunduk.
Ia merasa sedikit malu.
Ternyata ceritanya berbeda
Rara kemudian menceritakan apa yang ia pikirkan kemarin.
“Aku kira kamu tidak mau bermain denganku.”
Naya menatap Rara.
“Kenapa?”
“Karena kamu pergi bersama Sinta dan tidak memberitahuku.”
Naya tersenyum.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
Rara mengangguk.
“Aku tahu sekarang.”
Kiko yang sejak tadi mendengarkan tiba-tiba berkata,
“Berarti kita sudah tahu jawabannya.”
Rara tertawa.
“Iya.”
Kiko melanjutkan,
“Kalau kemarin kita langsung percaya pada dugaan Rara, berarti kita salah.”
Rara mengangguk.
“Untung aku bertanya.”
Naya tersenyum.
“Lebih baik bertanya daripada terus menebak-nebak.”
Tidak Semua yang Terlihat Adalah Seluruh Cerita
Hari itu Rara belajar sesuatu.
Ternyata melihat satu kejadian tidak selalu berarti mengetahui seluruh ceritanya.
Melihat Sinta membisikkan sesuatu kepada Naya memang benar.
Naya memang pergi bersama Sinta.
Tetapi kesimpulan yang dibuat Rara ternyata tidak benar.
Rara kemudian berpikir tentang hal-hal lain.
Berapa banyak kejadian yang pernah ia lihat hanya sebagian?
Berapa banyak hal yang pernah ia kira benar sebelum bertanya?
Ia tidak ingin terburu-buru lagi.
Ada yang perlu ditanyakan
Sejak hari itu, ketika Rara melihat sesuatu yang membuatnya bingung, ia mencoba berhenti sebentar.
Ia bertanya kepada dirinya sendiri:
“Aku benar-benar tahu, atau baru menduga?”
Kalau belum tahu, ia mencoba mencari tahu.
Kalau belum ada jawaban, ia belajar menunggu.
Dan kalau ternyata dugaannya salah, ia belajar memperbaikinya.
Tidak mudah.
Tetapi Rara ingin belajar.
Sebab menjaga hati juga berarti tidak membiarkannya dipenuhi oleh sesuatu yang belum tentu benar.
Tiga Sekawan dan Sebuah Pelajaran
Sore itu, mereka bertiga duduk di bawah pohon.
Kiko tiba-tiba berkata,
“Kalau aku melihat sesuatu yang aneh, aku boleh langsung bertanya?”
Naya menjawab,
“Boleh.”
Rara menambahkan,
“Asalkan bertanyanya baik-baik.”
Kiko mengangguk.
“Kalau tidak bertanya?”
Rara menjawab,
“Bisa jadi kita salah mengira.”
Kiko tersenyum.
“Seperti kemarin.”
Rara tertawa.
“Seperti kemarin.”
Mereka bertiga kemudian melanjutkan permainan.
Rara masih akan bertanya.
Kiko masih akan penasaran.
Naya masih akan menyimpan beberapa hal untuk dirinya sendiri.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena berteman bukan berarti harus mengetahui semua hal tentang teman.
Yang penting, ketika sesuatu belum diketahui, mereka belajar untuk tidak buru-buru membuat cerita sendiri.
Tamat.
