Tiga Sekawan dan Teman yang Tidak Diajak

 

“Teman yang baik bukan hanya mengajak saat membutuhkan teman, tetapi juga belajar memperhatikan hati orang lain.”

Permainan Baru

Hari itu Kiko membawa sebuah bola baru ke sekolah.

Bola itu berwarna merah dengan gambar beberapa bintang kecil.

Begitu melihatnya, Rara langsung bertanya,

“Bola baru?”

Kiko mengangguk bangga.

“Iya. Kemarin aku mendapatkannya.”

Naya mendekat.

“Bagus sekali.”

Kiko memegang bola itu erat-erat.

“Hari ini kita bermain bersama, ya.”

Rara dan Naya mengangguk.

Saat jam istirahat tiba, mereka bertiga pergi ke halaman.

Kiko mulai memantulkan bola.

“Rara, tangkap!”

Bola dilempar.

Rara menangkapnya.

Kemudian Rara melempar kepada Naya.

Mereka tertawa.

Permainan itu berlangsung cukup lama.

Seorang teman datang

Tidak lama kemudian, seorang anak bernama Dimas datang mendekat.

“Boleh ikut bermain?”

Kiko menangkap bola.

Ia melihat Rara.

Kemudian melihat Naya.

Mereka bertiga sebenarnya ingin bermain bertiga saja.

Kiko menjawab,

“Kami sedang bermain.”

Dimas mengangguk.

“Aku tahu. Aku boleh ikut?”

Kiko terdiam.

Rara juga tidak langsung menjawab.

Naya melihat Dimas.

“Boleh.”

Kiko menoleh.

“Tapi nanti bolanya cepat direbut.”

Dimas berkata,

“Aku bisa bergantian.”

Kiko masih memegang bola.

“Kalau bertiga saja lebih seru.”

Dimas tersenyum kecil.

“Oh.”

Ia kemudian berjalan pergi.

Sesuatu yang Terasa Berbeda

Rara melihat Dimas menjauh.

Ia kemudian melihat Kiko.

“Kamu sengaja tidak mengajaknya?”

Kiko menggeleng.

“Aku cuma mau bermain dengan kalian.”

“Bukankah dia hanya ingin ikut?”

“Iya.”

“Lalu kenapa tidak boleh?”

Kiko tidak langsung menjawab.

Ia sendiri tidak tahu.

Ia hanya ingin bola barunya dimainkan bersama Rara dan Naya.

Naya berkata,

“Kalau kamu memang ingin bermain bertiga, sebenarnya boleh.”

Kiko mengangguk.

“Tapi?”

Naya melanjutkan,

“Kita juga bisa menyampaikan keinginan itu dengan baik.”

Kiko memandang bola di tangannya.

“Aku tidak bermaksud membuat Dimas sedih.”

Rara berkata pelan,

“Kadang kita memang tidak bermaksud menyakiti orang.”

Ketika Teman Terlihat Sedih

Mereka kembali bermain.

Tetapi permainan tidak terasa seperti sebelumnya.

Rara beberapa kali melihat ke arah Dimas.

Dimas duduk sendirian di bangku dekat taman.

Ia tidak bermain.

Kiko juga melihatnya.

“Dia masih di sana.”

Naya mengangguk.

Kiko menggulirkan bola dengan kakinya.

“Aku jadi tidak enak.”

Rara bertanya,

“Karena dia tidak ikut bermain?”

Kiko mengangguk.

“Tapi aku juga ingin bermain dengan kalian.”

Naya tersenyum.

“Keinginanmu tidak salah.”

Kiko menatap Naya.

“Lalu?”

“Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana caranya supaya kita tidak menyakiti orang lain.”

Tidak harus selalu mengajak semua orang

Rara ikut berbicara.

“Kalau kita sedang ingin bermain bertiga, apa kita harus selalu mengajak semua orang?”

Naya berpikir.

“Mungkin tidak.”

Kiko mengangguk.

“Berarti aku tidak salah?”

Naya menjawab,

“Bukan begitu.”

Ia menunjuk ke arah Dimas.

“Tidak mengajak seseorang bukan selalu berarti kita jahat. Tetapi kalau kita membuatnya merasa tidak diterima dengan sengaja, itu berbeda.”

Kiko terdiam.

Rara menambahkan,

“Kalau kita memang ingin bermain bertiga, kita bisa mengatakan dengan baik.”

“Seperti apa?” tanya Kiko.

Rara berpikir.

“Mungkin... ‘Dimas, sekarang kami sedang ingin bermain bertiga. Nanti setelah selesai, kamu boleh ikut.’”

Kiko mengangguk.

“Kalau dia masih ingin ikut?”

“Bicarakan lagi,” jawab Naya.

Kiko tertawa kecil.

“Ternyata berteman banyak aturannya.”

Rara tersenyum.

“Bukan aturan. Lebih seperti belajar memperhatikan.”

Kiko Mendekati Dimas

Kiko membawa bolanya menuju bangku.

Dimas melihat Kiko datang.

“Ada apa?”

Kiko duduk di sampingnya.

“Maaf, ya.”

mas mengangkat kepala.

“Untuk apa?”

“Tadi aku tidak mengajakmu bermain.”

Dimas diam.

Kiko melanjutkan,

“Aku sebenarnya ingin bermain bertiga dengan Rara dan Naya.”

Dimas mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

“Tapi aku seharusnya mengatakannya dengan lebih baik.”

Dimas tersenyum sedikit.

“Kalau sekarang bagaimana?”

Kiko melihat bola.

“Sekarang kamu mau ikut?”

Dimas mengangguk.

Kiko berdiri.

“Ayo.”

Bermain Bersama

Mereka kembali ke halaman.

Rara dan Naya sudah menunggu.

Kiko berkata,

“Sekarang Dimas ikut.”

Rara tersenyum.

“Baik.”

Naya berkata,

“Kita buat aturan supaya semua mendapat giliran.”

Kiko mengangguk.

Mereka mulai bermain lagi.

Kali ini bukan hanya bertiga.

Bola berpindah dari Kiko kepada Dimas.

Dari Dimas kepada Rara.

Kemudian kepada Naya.

Kadang bola terlempar terlalu jauh.

Kadang ada yang gagal menangkap.

Kadang mereka tertawa karena bola justru masuk ke semak.

Tidak ada yang bermain dengan sempurna.

Tetapi semua mendapat kesempatan.

Ketika permainan menjadi lebih ramai

Setelah beberapa saat, Kiko berkata,

“Ternyata ramai juga.”

Dimas tertawa.

“Lebih ramai.”

Rara mengangguk.

“Dan bolanya tetap satu.”

Naya tersenyum.

“Berarti tidak harus punya bola masing-masing untuk bisa bermain bersama.”

Kiko melihat bolanya.

Ia kemudian berkata,

“Besok kita bisa membawa permainan lain.”

“Permainan apa?” tanya Dimas.

Kiko berpikir.

“Belum tahu.”

Rara tertawa.

“Seperti biasa.”

Belajar Melihat dari Sisi Orang Lain

Saat bel masuk berbunyi, mereka berjalan kembali ke kelas.

Kiko berkata,

“Tadi aku cuma memikirkan apa yang aku mau.”

Rara menoleh.

“Apa yang kamu mau?”

“Aku ingin bermain dengan kalian.”

“Itu tidak salah.”

“Tapi aku lupa memikirkan perasaan Dimas.”

Naya mengangguk.

“Mungkin itu yang disebut memperhatikan orang lain.”

Kiko berpikir.

“Jadi kalau kita ingin sesuatu, kita juga perlu melihat apakah orang lain bisa terluka karena cara kita mendapatkannya?”

Rara tersenyum.

“Kurang lebih begitu.”

Kiko mengangguk.

Ia masih belum tahu apakah ia akan selalu berhasil.

Mungkin lain kali ia masih akan lupa.

Tetapi sekarang ia tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan selain keinginannya sendiri.

Perasaan orang lain.

Allah Menyukai Kebaikan

Sebelum masuk kelas, Dimas berkata,

“Terima kasih sudah mengajakku.”

Kiko tersenyum.

“Sama-sama.”

Rara kemudian berkata,

“Kalau besok kamu ingin bermain sesuatu yang berbeda, bilang saja.”

Dimas mengangguk.

Mereka masuk ke kelas bersama-sama.

Hari itu Tiga Sekawan belajar bahwa persahabatan bukan hanya tentang menemukan teman yang menyenangkan.

Persahabatan juga tentang belajar menjadi teman yang menyenangkan bagi orang lain.

Tidak berarti harus selalu mengatakan “iya”.

Tidak berarti harus selalu mengajak semua orang.

Tetapi ketika berhubungan dengan orang lain, mereka dapat belajar menjaga ucapan, memperhatikan perasaan, berbagi kesempatan, dan tidak sengaja membuat seseorang merasa tidak diterima.

Sebab Allah mengajarkan manusia untuk berbuat baik kepada sesama.

Dan kebaikan sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.

Memberi kesempatan.

Menggunakan kata-kata yang baik.

Dan mau melihat sesuatu dari sisi orang lain.


Tamat.


Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI berdasarkan konsep cerita.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url