Tiga Sekawan dan Barang yang Hilang

 

“Menemukan sesuatu bukan berarti memilikinya. Kadang, kebaikan dimulai dari mengembalikan apa yang bukan milik kita.”

Sebuah Benda di Bawah Bangku

Sepulang sekolah, Rara, Kiko, dan Naya duduk di bawah pohon sambil menunggu jemputan.

Kiko sedang memainkan sebatang ranting.

Rara membaca buku.

Naya menggambar sesuatu di buku kecilnya.

Tiba-tiba Kiko melihat benda berwarna biru di bawah bangku.

“Apa itu?”

Ia membungkuk dan mengambilnya.

Ternyata sebuah dompet kecil.

Kiko membuka sedikit bagian luarnya.

Tidak ada uang.

Namun, di dalamnya terdapat beberapa kartu dan sebuah foto kecil.

“Punya siapa?” tanya Naya.

Kiko menggeleng.

Rara menutup bukunya.

“Jangan dibuka-buka.”

Kiko segera menutup dompet itu.

“Mungkin punya anak yang tadi duduk di sini.”

“Mungkin,” kata Naya.

Mereka bertiga melihat sekeliling.

Tidak ada siapa-siapa.

Sebuah keinginan kecil

Kiko memperhatikan dompet itu.

“Bagus, ya.”

Rara mengangguk.

“Bagus.”

“Kalau tidak ada yang mengambil bagaimana?”

Naya menjawab,

“Berarti kita harus menyimpannya sampai menemukan pemiliknya.”

Kiko memegang dompet itu.

“Tapi aku suka.”

Rara menatap Kiko.

“Suka bukan berarti boleh mengambil.”

Kiko terdiam.

Ia tahu Rara benar.

Tetapi dompet itu memang menarik.

Warnanya biru tua dengan gambar bintang kecil di bagian depan.

Kiko membayangkan jika dompet itu menjadi miliknya.

Ia bisa menyimpan kartu gambar di dalamnya.

Atau mungkin menyimpan uang tabungannya.

“Kalau kita tidak tahu pemiliknya bagaimana?” tanyanya.

Naya berpikir.

“Kita bisa bertanya.”

Mencari Pemiliknya

Mereka membawa dompet itu ke guru piket.

“Bu, kami menemukan ini di bawah bangku,” kata Rara.

Guru melihat dompet tersebut.

“Bagus. Kalian menyerahkannya kepada Ibu.”

Kiko bertanya,

“Kalau tidak ada yang mencari bagaimana, Bu?”

“Kita simpan terlebih dahulu. Biasanya pemiliknya akan datang mencari.”

Kiko mengangguk.

Mereka kembali ke halaman.

Tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang.

“Apakah ada yang melihat dompet biru?”

Seorang anak berdiri di dekat bangku.

Wajahnya terlihat cemas.

Kiko langsung menoleh.

Anak itu melihat ke bawah bangku.

“Dompetku hilang.”

Rara berdiri.

“Kamu kehilangan dompet biru?”

Anak itu mengangguk.

“Di dalamnya ada kartu perpustakaan dan foto keluargaku.”

Kiko melihat Rara dan Naya.

“Sepertinya ini.”

Mereka kembali menemui guru.

Guru kemudian memberikan dompet itu kepada pemiliknya setelah memastikan bahwa dompet tersebut memang miliknya.

Anak itu memeluk dompetnya.

“Terima kasih.”

Kiko tersenyum.

“Sama-sama.”

Kalau Tidak Dikembalikan

Saat berjalan kembali, Kiko tiba-tiba berkata,

“Kalau tadi aku menyimpan dompet itu, dia pasti sedih.”

Rara mengangguk.

“Mungkin.”

“Padahal aku suka dompetnya.”

Naya tersenyum.

“Boleh suka.”

Kiko menoleh.

“Boleh?”

“Boleh. Tetapi tetap bukan milikmu.”

Kiko berpikir.

Ternyata ada perbedaan antara menyukai sesuatu dan berhak memilikinya.

Ia bisa menyukai mainan milik temannya.

Bisa menyukai buku milik Rara.

Bisa menyukai dompet yang ia temukan.

Tetapi rasa suka tidak membuat benda milik orang lain berubah menjadi miliknya.

Kiko punya pertanyaan

“Kapan sesuatu boleh menjadi milik kita?”

Rara menjawab,

“Kalau memang diberikan kepada kita.”

“Atau kita membelinya sendiri,” tambah Naya.

Kiko mengangguk.

“Kalau menemukan?”

Rara menjawab,

“Cari pemiliknya.”

“Kalau pemiliknya tidak ketemu?”

“Berikan kepada orang dewasa yang bisa membantu.”

Kiko kembali mengangguk.

“Berarti menemukan barang itu seperti punya tugas.”

Naya tersenyum.

“Mungkin begitu.”

Sebuah Kepercayaan

Keesokan harinya, Bu Guru meminta bantuan kepada Rara, Kiko, dan Naya untuk membawa beberapa buku dari ruang guru ke perpustakaan.

“Kalian bisa menjaganya?”

“Bisa, Bu,” jawab mereka bertiga.

Kiko membawa satu tumpukan buku.

Rara membawa tumpukan lain.

Naya membawa sisanya.

Di tengah perjalanan, sebuah buku jatuh dari tumpukan Kiko.

Bruk!

Kiko mengambilnya.

Ia melihat sampul buku itu.

“Wah, buku ini bagus.”

Rara tertawa.

“Kamu boleh melihatnya nanti setelah selesai.”

Kiko mengangguk.

Ia membawa buku itu sampai ke perpustakaan.

Setelah semua buku tersusun, Kiko menyerahkan tugas mereka kepada Bu Guru.

Bu Guru tersenyum.

“Terima kasih sudah menjaganya.”

Kiko tersenyum.

Ia mulai mengerti.

Ketika seseorang menitipkan sesuatu, benda itu bukan menjadi miliknya.

Tetapi ada sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya:

menjaga kepercayaan.

Allah Mengetahui

Dalam perjalanan pulang, Naya berkata,

“Menurutmu, mengapa kita harus mengembalikan barang yang bukan milik kita?”

Kiko menjawab,

“Karena pemiliknya pasti mencarinya.”

“Benar,” kata Rara.

Kiko menambahkan,

“Dan karena barang itu bukan milik kita.”

Rara tersenyum.

Kiko lalu berkata,

“Kalau tidak ada yang melihat kita menemukannya?”

Rara terdiam sebentar.

Naya menjawab,

“Allah tetap mengetahui.”

Kiko mengangguk pelan.

Tidak semua perbuatan dilihat oleh orang lain.

Ada hal-hal yang dilakukan ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan.

Di situlah seseorang belajar memilih.

Bukan karena takut dimarahi.

Bukan karena ingin dipuji.

Tetapi karena mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang dilakukan.

Tiga Sekawan Pulang

Di depan gerbang sekolah, Kiko berhenti.

“Rara.”

“Ya?”

“Kalau suatu hari aku menemukan sesuatu yang bagus, aku akan bilang kepadamu.”

“Kenapa?”

“Supaya kamu mengingatkanku kalau aku mulai ingin mengambilnya.”

Rara tertawa.

“Baik.”

Naya ikut tertawa.

“Kalau aku menemukan sesuatu?”

“Kita cari pemiliknya bersama-sama,” jawab Kiko.

Mereka bertiga kemudian berjalan pulang.

Hari itu Kiko tidak membawa pulang dompet biru.

Tetapi ia membawa sesuatu yang lain.

Sebuah pelajaran kecil tentang amanah.

Bahwa sesuatu yang bukan miliknya tetap bukan miliknya, meskipun ia menyukainya.

Bahwa kejujuran tidak hanya diperlukan ketika ada orang yang melihat.

Dan bahwa menjadi orang yang dapat dipercaya dimulai dari hal-hal sederhana.

Mengembalikan apa yang bukan milik kita.


Tamat.


Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI berdasarkan konsep cerita.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url