Hari Biasa Rara

 

Sumber Gambar: AI Generated

"Tidak semua hari membawa kejutan. Sebagian hanya berjalan pelan, dan itu tidak salah."

Pagi itu, Rara bangun seperti biasa. Tidak ada suara hujan. Tidak ada cahaya matahari yang terlalu terang.

Jam di dinding berdetak pelan. Ibu sudah di dapur. Ayah masih membaca koran. Tidak ada yang berbeda.

Rara duduk di tepi tempat tidur. Ia menguap kecil, lalu merapikan selimutnya. Boneka beruangnya masih di tempat yang sama. Tidak jatuh. Tidak hilang.

“Hari ini biasa saja,” pikir Rara.

Ia mandi, mengenakan baju, lalu sarapan. Roti di piringnya sama seperti kemarin. Susu di gelasnya juga sama hangatnya. Rara menatap meja makan cukup lama.

“Kenapa hari ini tidak ada yang istimewa?” tanyanya pelan.

Ibu tersenyum, tapi tidak menjawab. Ayah hanya mengangguk kecil.

Di sekolah, Rara berjalan masuk kelas. Teman-temannya sudah duduk di bangku masing-masing. Tidak ada balon. Tidak ada kado. Tidak ada yang bertepuk tangan.

Hari itu bukan hari ulang tahun siapa pun. Bukan juga hari libur. Guru menulis di papan tulis. Pelajaran dimulai.

Rara mengeluarkan buku dan pensilnya. Ia menulis, menghapus, lalu menulis lagi. Semua berjalan seperti biasanya.

Saat istirahat, Rara duduk di bawah pohon kecil di halaman sekolah. Ia membuka bekalnya. Nasinya hangat. Sayurnya tidak terlalu asin. Tidak ada makanan kesukaannya hari ini. Rara menghela napas.

“Kenapa semua terasa biasa?” gumamnya.

Ia melihat sekeliling. Temannya bermain. Ada yang tertawa. Ada yang diam. Tidak ada yang terlihat sangat senang. Tidak ada juga yang terlihat sangat sedih. Semua… biasa.

Sepulang sekolah, Rara berjalan pulang dengan langkah pelan. Jalanan tidak macet. Tidak juga sepi. Angin bertiup ringan. Daun-daun tidak jatuh terlalu banyak.

Di rumah, Rara meletakkan tasnya. Ia duduk di ruang tamu, menatap dinding kosong. Biasanya, Rara suka hari-hari yang istimewa. Hari dengan acara. Hari dengan kejutan. Hari dengan cerita. Tapi hari ini tidak punya apa-apa untuk diceritakan.

“Apakah hari seperti ini salah?” tanya Rara pada dirinya sendiri.

Ia bangkit dan pergi ke kamar. Rara membuka jendela. Udara masuk pelan. Tidak dingin. Tidak panas. Ia duduk di lantai dan mengeluarkan kotak kecil. Di dalamnya ada kertas-kertas kosong. Rara mengambil satu.

Ia tidak tahu harus menggambar apa. Tidak tahu harus menulis apa. Akhirnya, ia menggambar garis. Lalu satu garis lagi. Tidak membentuk apa pun. Rara tersenyum tipis.

Ia sadar sesuatu hari itu. Hari ini tidak memberinya cerita besar. Tapi hari ini juga tidak menyakitinya.

Malam datang tanpa suara keras. Lampu dinyalakan. Ibu memanggil Rara untuk makan malam. Menu makan malam juga biasa. Namun Rara makan sampai habis.

Setelah itu, Rara mandi dan bersiap tidur. Ia naik ke tempat tidur dan memeluk boneka beruangnya.Sebelum tidur, Rara berpikir lagi tentang harinya.

Tidak ada yang istimewa. Tapi juga tidak ada yang hilang. Hari ini tidak membuatnya takut. Tidak juga membuatnya sedih.

Hari ini hanya… ada.

Rara menarik selimut sampai ke dada. Ia memejamkan mata.

“Besok mungkin juga biasa,” pikirnya.

Dan untuk pertama kalinya, pikiran itu tidak membuatnya kecewa. Rara tertidur dengan napas pelan. Hari biasa itu berakhir dengan tenang.


Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

1. Hari biasa tidak salah

Anak belajar bahwa hidup tidak harus selalu seru atau istimewa untuk dianggap baik.

2. Rutinitas memberi rasa aman

Hal-hal yang berulang justru membantu anak merasa tenang.

3. Tidak semua hari harus punya cerita besar

Anak diajak menerima hari yang sederhana tanpa merasa kurang.

4. Mengenali emosi tanpa menolaknya

Rasa hambar bukan musuh, tapi bagian dari hidup.

5. Belajar berdamai dengan keseharian

Anak memahami bahwa hidup terdiri dari banyak hari biasa, dan itu cukup.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url