Rara dan Diam
![]() |
| Sumber Gambar: Canva Edited |
"Ada perasaan yang belum punya kata. Diam bukan menyembunyikan, melainkan memberi waktu."
Hari itu, Rara tidak banyak bicara. Bukan karena ia marah. Bukan juga karena ia sedih. Ia hanya merasa kepalanya penuh, tapi tidak tahu oleh apa.
Pagi berjalan seperti biasa. Rara bangun, mandi, lalu sarapan. Ibu bertanya apakah tidurnya nyenyak. Ayah bertanya apakah bekalnya sudah siap. Rara mengangguk. Ia tidak menjawab dengan kata-kata.
Di sekolah, guru menyapa. Teman-teman berbincang. Ada yang tertawa keras. Ada yang saling bercerita. Rara duduk di bangkunya. Ia mendengar semua suara itu, tapi tidak ingin ikut bicara.
Saat pelajaran dimulai, guru bertanya,
“Siapa yang ingin menjawab?”
Beberapa tangan terangkat. Tangan Rara tetap di meja. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Ia tahu. Tapi ia tidak ingin berbicara.
Di dalam dirinya, ada rasa yang aneh. Tidak sakit. Tidak juga menyenangkan. Seperti awan tipis yang menggantung. Rara tidak tahu harus menyebutnya apa.
Saat istirahat, teman Rara duduk di sampingnya.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
Rara menggeleng. “Aku tidak apa-apa.”
Jawaban itu benar, tapi juga tidak sepenuhnya menjelaskan. Temannya menunggu sebentar, lalu pergi bermain.
Rara duduk sendiri di bangku halaman sekolah. Ia memperhatikan bayangan daun di tanah. Bergerak pelan tertiup angin. Bayangan itu tidak bicara. Tapi tetap ada. Rara merasa nyaman melihatnya.
Sepulang sekolah, Ibu bertanya lagi,
“Hari ini di sekolah bagaimana?”
“Biasa,” jawab Rara singkat.
Ibu menatap Rara sejenak. Tidak bertanya lagi. Ia tahu Rara sedang ingin diam.
Sore itu, Rara duduk di kamarnya. Ia membuka buku kosong. Tidak menulis apa pun. Ia hanya membalik halaman.
Diam terasa panjang. Namun tidak menakutkan. Di luar, suara burung terdengar. Di dalam, Rara mendengar napasnya sendiri.
Ia menyadari sesuatu: saat diam, ia bisa mendengar lebih banyak. Ia mendengar jam berdetak. Ia mendengar angin. Ia mendengar pikirannya yang biasanya tertutup suara.
Malam datang. Saat makan malam, Rara masih sedikit bicara. Ayah menceritakan harinya. Ibu mengangguk. Rara mendengarkan.Tidak ada yang memaksanya untuk berbicara.
Sebelum tidur, Ibu masuk ke kamar Rara. Ia duduk di tepi tempat tidur.
“Kamu boleh diam,” kata Ibu pelan.
“Kalau nanti ingin cerita, Ibu ada.”
Rara tersenyum kecil. Ia memeluk bantal dan berbaring. Lampu dimatikan. Kamar menjadi sunyi. Di dalam keheningan itu, Rara merasa tenang. Tidak harus menjelaskan. Tidak harus memilih kata.
Diam memberinya ruang. Dan di ruang itu, perasaan yang belum punya nama boleh tinggal sebentar. Rara tertidur tanpa beban.
Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)
1. Diam bukan masalah
Anak belajar bahwa tidak selalu harus berbicara untuk dianggap baik-baik saja.
2. Perasaan butuh waktu
Tidak semua emosi bisa langsung dijelaskan.
3. Memberi ruang lebih penting daripada memaksa
Anak merasa aman ketika diamnya dihormati.
4. Keheningan adalah bagian dari komunikasi
Anak belajar bahwa mendengarkan juga bermakna.
5. Kepercayaan tumbuh dari penerimaan
Anak akan berbicara saat ia siap, bukan saat dipaksa.
