Rara dan Doa dalam Hati

Sumber Gambar: Canva Edited

"Tidak semua tangis terdengar. Ada yang jatuh diam-diam tapi tetap sampai ke tempat yang tepat."

Rara dan Doa dalam Hati

Sore itu langit terlihat biasa saja. Tidak terlalu cerah. Tidak juga mendung. Angin bergerak pelan, seperti hari-hari sebelumnya.

Rara duduk di bangku kecil di halaman. Di tangannya, ada sebuah kertas. Gambarnya. Gambar yang ia buat sejak kemarin.

Ia sudah melanjutkannya pagi tadi. Menambahkan bunga, menambahkan awan, dan sedikit warna di langitnya.

Tapi sekarang, kertas itu terlipat di satu sisi. Sedikit sobek. Warnanya juga tidak lagi rapi. Rara tidak tahu persis kapan itu terjadi.

Mungkin saat ia memindahkannya. Mungkin saat tertindih buku. Mungkin saat ia tidak melihat. 

Rara menatap gambar itu. Diam. Ia tidak marah. Tapi hatinya terasa tidak enak. Seperti ada sesuatu yang jatuh pelan di dalamnya.

Rara mencoba merapikan kertas itu. Ia mengusap bagian yang terlipat. Tapi tidak kembali seperti semula.

Ia menatapnya lebih lama. Matanya mulai terasa hangat. Ia tidak ingin menangis. Tapi air itu datang pelan.

Satu titik. Jatuh tanpa suara. Rara menunduk. Ia tidak memanggil siapa-siapa. Tidak juga berkata apa-apa.

Ia hanya duduk. Memegang kertas itu. Tangisnya tidak besar. Tidak tersedu. Hanya mengalir pelan. Seperti hujan yang turun diam-diam.

Beberapa saat kemudian, Rara mengusap matanya. Ia menarik napas pelan. Ia tidak tahu harus bagaimana.

Gambarnya tidak kembali seperti semula. Perasaannya juga belum hilang.

Rara melihat ke langit. Tidak ada yang berubah. Langit tetap luas. Tenang.

Rara menutup matanya. Ia tidak mengangkat tangan. Tidak mengucapkan kata dengan suara. Tapi di dalam hatinya, ia berkata pelan.

“Aku sedih…”

Tidak panjang. Tidak rapi. Hanya itu. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi ia merasa tidak perlu banyak kata. Ia hanya diam. Dan membiarkan perasaan itu ada.

Beberapa saat berlalu. Rara masih duduk. Tangisnya sudah berhenti. Perasaannya belum sepenuhnya hilang. Tapi sudah tidak seberat tadi. Seperti ada ruang yang sedikit terbuka.

Rara membuka mata. Ia melihat kertas di tangannya lagi. Masih sobek. Masih tidak rapi. Tapi ia tidak lagi merasa sesakit tadi.

Ia melipat kertas itu pelan. Bukan untuk dibuang. Tapi untuk disimpan.

Rara berdiri. Langkahnya tidak cepat. Ia masuk ke dalam rumah.

Ibu sedang di dapur. Rara tidak langsung bercerita. Ia hanya berdiri sebentar. Lalu berjalan ke kamarnya.

Ia meletakkan kertas itu di meja. Duduk di tepi tempat tidur. Diam. Tidak kosong. Tapi tenang.

Rara tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tadi ia merasa sedih. Sekarang masih ada sedikit. Tapi tidak membuatnya sesak. Seperti ada yang mendengar. Meski tidak ada suara.

Rara berbaring. Menarik selimut sedikit. Ia memejamkan mata.

Di dalam hatinya, ia tahu satu hal: Ia boleh sedih. Ia boleh menangis. Dan ada tempat yang selalu bisa ia tuju, meski hanya dalam diam.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa sedih adalah perasaan yang boleh dirasakan
  2. Mengenalkan bahwa menangis bukan tanda lemah
  3. Mengajarkan bahwa doa bisa dilakukan dalam hati, tanpa kata-kata rumit
  4. Menanamkan keyakinan bahwa selalu ada yang mendengar, meski tidak terlihat
  5. Membantu anak memiliki tempat aman untuk mengadu tanpa takut

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url