Rara dan Janji yang Dijaga

Sumber Gambar: AI Generated

"Janji tidak selalu besar. Kadang hanya sederhana tapi tetap perlu dijaga."

Rara dan Janji yang Dijaga

Pagi itu Rara bangun sedikit lebih awal. Ia duduk di tepi tempat tidur, masih memegang selimutnya. Udara terasa sejuk. Rumah masih tenang. Belum banyak suara.

Rara melihat ke arah jendela. Langit baru saja terang. Ia teringat sesuatu.

Kemarin sore, ia berkata pada Ibu,

“Besok aku mau menyiram bunga sendiri.”

Ibu hanya tersenyum dan mengangguk. Tidak ada yang memaksa. Tidak ada yang menyuruh. Hanya sebuah kalimat kecil.

Tapi pagi ini, Rara mengingatnya. Ia berdiri perlahan. Langkahnya masih pelan karena sedikit mengantuk.

Ia berjalan ke kamar mandi, lalu keluar lagi. Biasanya, setelah itu ia langsung duduk atau bermain sebentar.

Tapi hari ini, ia berhenti di depan pintu. Ia melihat ke arah halaman. Bunga-bunga di pot terlihat diam. Tanahnya tampak sedikit kering.

Rara menarik napas kecil. 

“Masih pagi…” pikirnya.

Ia bisa saja menunda. Mungkin nanti saja. Atau menunggu Ibu mengingatkan. Atau bahkan tidak melakukannya. Tidak ada yang akan marah. Tidak ada yang akan tahu.

Rara berdiri diam beberapa saat. Di dalam hatinya, ada dua suara kecil.

Yang satu berkata,

“Nanti saja.”

Yang satu lagi berkata,

“Kemarin sudah bilang.”

Rara memegang gagang pintu. Ia tidak terburu-buru. Ia hanya memilih.

Beberapa detik kemudian, ia membuka pintu. Udara pagi menyambutnya. Sejuk. Tenang.

Rara berjalan ke arah pot bunga. Ia mengambil ember kecil. Mengisinya dengan air. Lalu mulai menyiram.

Air jatuh ke tanah pelan. Tidak banyak. Cukup. Rara tidak merasa terbebani. Ia juga tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Ia hanya melakukan apa yang sudah ia katakan.

Satu pot selesai. Lalu pot berikutnya. Rara bergerak pelan. Tidak tergesa. Saat selesai, ia meletakkan ember kembali.

Ia melihat bunga-bunga itu. Daunnya tampak segar. Tanahnya basah. Rara tersenyum kecil. 

Ia tidak merasa bangga berlebihan. Tidak juga merasa lega seperti habis menyelesaikan sesuatu yang sulit. Hanya terasa pas. Seperti sesuatu yang memang seharusnya dilakukan.

Ibu keluar dari dalam rumah. Melihat Rara di halaman.

“Sudah disiram?” tanya Ibu.

Rara mengangguk.

“Iya.”

Ibu tersenyum. Tidak berkata banyak. Rara juga tidak menjelaskan. Ia hanya berdiri di sana. Menikmati udara pagi. Di dalam hatinya, ada rasa yang hangat.

Ternyata, menjaga janji itu tidak selalu sulit. Kadang hanya perlu diingat lalu dilakukan. Meskipun tidak ada yang melihat. Meskipun tidak ada yang menunggu.

Rara masuk kembali ke dalam rumah. Langkahnya ringan. Hari itu berjalan seperti biasa.

Tapi Rara tahu satu hal: Ada hal kecil yang ia jaga. Dan itu membuat hatinya lebih tenang.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa janji adalah sesuatu yang perlu dijaga, sekecil apa pun
  2. Mengenalkan konsep tanggung jawab dari dalam, bukan karena diawasi
  3. Mengajarkan bahwa kebaikan tetap dilakukan meski tidak ada yang melihat
  4. Menanamkan bahwa komitmen dimulai dari hal kecil
  5. Membantu anak merasakan bahwa menepati janji membawa ketenangan

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url