Membacakan Dongeng dengan Hadir
![]() |
| Sumber Gambar: Canva Edited |
"Dongeng tidak selalu ingin dijelaskan. Kadang ia hanya ingin dibacakan, lalu dibiarkan tinggal di hati anak."
Membacakan dongeng sering dianggap sebagai kegiatan sederhana. Duduk, membuka buku, lalu membaca sampai selesai. Namun dalam praktiknya, banyak orang tua dan guru merasa ragu: apakah caranya sudah benar, apakah anak mengerti, apakah dongengnya cukup mendidik.
Padahal, dongeng tidak selalu menuntut hasil. Ia lebih sering bekerja sebagai pengalaman perlahan, diam-diam, dan tidak langsung terlihat.
Artikel ini ditulis sebagai pengantar lembut bagi orang tua dan pendamping anak: bagaimana membacakan dongeng dengan cara yang tenang, hadir, dan tidak membebani anak dengan harapan berlebihan.
Mengapa Cara Membacakan Dongeng Itu Penting
Dongeng bukan sekadar cerita
Bagi anak, dongeng bukan hanya rangkaian kata. Ia adalah suasana. Nada suara. Waktu bersama. Perasaan aman ketika ada orang dewasa yang duduk dan hadir sepenuhnya.
Dongeng membantu anak:
- mengenali perasaan tanpa harus menamainya
- memahami perubahan tanpa harus menjelaskannya
- merasa ditemani, bukan diuji
"Cara dongeng dibacakan sering kali lebih penting daripada isi ceritanya sendiri."
Anak tidak selalu perlu mengerti
Tidak semua dongeng harus langsung dipahami. Ada cerita yang baru terasa maknanya jauh setelahnya. Ada pula yang hanya tinggal sebagai rasa hangat.
Ketika orang dewasa terlalu ingin memastikan anak “mengerti”, dongeng bisa berubah menjadi tugas. Padahal, dongeng bekerja paling baik saat anak bebas menerima sesuai kesiapan dirinya.
Sikap Dasar Saat Membacakan Dongeng
Hadir sepenuhnya
Hadir berarti:
- tidak tergesa-gesa
- tidak sambil melakukan hal lain
- tidak sibuk menilai reaksi anak
Beberapa menit membaca dengan penuh perhatian jauh lebih berarti daripada cerita panjang yang dibacakan sambil terburu-buru.
Tidak mengarahkan perasaan anak
Saat membaca dongeng, hindari kalimat seperti:
“Harusnya kamu sedih ya.”
“Ini pelajarannya begini.”
“Nah, jadi kamu harus begitu.”
Biarkan anak merasakan ceritanya sendiri. Anak punya cara unik untuk memahami dunia
Cara Membacakan Dongeng dengan Tenang
Pilih waktu yang tepat
Dongeng paling baik dibacakan saat:
- anak tidak terlalu lelah
- tidak sedang terburu-buru
- suasana relatif tenang
Waktu sebelum tidur atau sore hari sering menjadi pilihan yang baik, tapi tidak harus selalu demikian.
Gunakan suara yang alami
Tidak perlu suara berlebihan atau dramatis. Suara yang lembut dan stabil justru membantu anak merasa aman.
Jika ada jeda, tidak apa-apa. Diam juga bagian dari cerita.
Berhenti jika anak ingin berhenti
Anak boleh:
- tidak menyelesaikan cerita
- meminta mengulang bagian tertentu
- diam tanpa komentar
Dongeng tidak harus selesai dalam satu kali duduk.
Setelah Dongeng Dibacakan
Tidak harus ada diskusi
Banyak orang tua merasa perlu langsung bertanya:
“Tadi ceritanya tentang apa?”
“Apa pelajarannya?”
Jika anak ingin bercerita, dengarkan. Jika tidak, biarkan. Dongeng tetap bekerja meski tidak dibahas.
Biarkan cerita tinggal
Beberapa anak akan mengingat dongeng itu keesokan hari. Ada yang menirukan adegan. Ada yang tiba-tiba mengaitkannya dengan pengalaman sendiri.
Itu tanda cerita sedang tumbuh di dalam diri mereka.
Dongeng sebagai Ruang Aman
Dongeng bukan alat untuk membentuk anak menjadi sesuatu. Ia adalah ruang aman agar anak bisa menjadi dirinya sendiri.
Melalui dongeng, anak belajar bahwa:
- perasaan tidak selalu harus dijelaskan
- perubahan adalah bagian dari hidup
- tidak apa-apa merasa bingung, lelah, atau diam
Semua itu terjadi tanpa ceramah.
Peran Orang Tua dan Guru
Menjadi pendamping, bukan pengarah
Dalam dongeng, orang dewasa berperan sebagai teman perjalanan. Membuka jalan, lalu berjalan bersama bukan menarik atau mendorong.
Percaya pada proses anak
Setiap anak menerima cerita dengan caranya sendiri. Tidak perlu dibandingkan, tidak perlu dipercepat.
Kepercayaan adalah hadiah terbesar yang bisa diberikan pada anak.
Membacakan dongeng bukan tentang menjadi orang tua atau guru yang sempurna. Ia tentang kesediaan hadir, meski hanya sebentar, dengan hati yang tenang.
Jika setelah dongeng selesai anak merasa aman, ditemani, dan diterima, maka dongeng itu sudah bekerja sebagaimana mestinya.
Tidak perlu lebih.
.png)