Rara dan Peran Hilang

Sumber Gambar: Canva Edited

"Ada masa ketika tidak ada yang hilang dari tangan, tetapi sesuatu menghilang dari diri. Dan tidak ada yang tahu harus mencarinya di mana."

Di kelas, Bu Guru meminta semua anak berdiri satu per satu.

“Coba ceritakan,” kata Bu Guru,

“kalau besar nanti ingin menjadi apa.”

Anak-anak mengangkat tangan dengan cepat.

“Dokter!”

“Polisi!”

“Guru!”

“Pilot!”

Suara-suara itu berloncatan seperti bola. Rara berdiri paling belakang. Tangannya tidak terangkat. Ia tidak merasa takut. Juga tidak sedih. Hanya kosong. Ketika gilirannya tiba, Bu Guru tersenyum.

“Rara, kalau besar nanti ingin jadi apa?”

Rara membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku belum tahu,” katanya akhirnya, pelan.

Bu Guru mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

Tapi sepanjang hari itu, kata-kata “belum tahu” terus mengikuti Rara.

Di rumah, Rara duduk di teras. Ia melihat orang-orang lewat. Ada yang membawa tas kerja. Ada yang mendorong gerobak. Ada yang menggendong anak. Semua terlihat sibuk. Semua terlihat punya tujuan.

Rara bertanya dalam hati, kalau aku tidak tahu mau jadi apa, berarti aku ini siapa?

Hari-hari berikutnya, Rara mulai merasa aneh. Di sekolah, ia murid. Di rumah, ia anak. Tapi di dalam dirinya, ada rasa seolah-olah ia kehilangan sesuatu. Bukan mainan. Bukan orang. Sesuatu yang tidak bisa disebutkan.

Suatu sore, Rara membantu Ibu melipat baju. Ia melipat dengan rapi, satu per satu. Ibu tersenyum.

“Terima kasih ya.”

Rara mengangguk. Tapi rasa kosong itu tidak pergi. Malamnya, Rara menulis di buku kecilnya. Bukan tulisan rapi. Hanya coretan.

“Aku tidak tahu harus jadi apa,” tulisnya.

Ia menatap kalimat itu lama. Tidak ada jawaban yang muncul. 

Besoknya, Rara tidak ikut bermain saat jam istirahat. Ia duduk di bangku, melihat teman-temannya berlarian. Seorang teman bertanya,

“Rara kenapa?”

Rara menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Dan itu benar. Tidak apa-apa. Tapi juga tidak penuh. 

Suatu hari, Ayah mengajak Rara berjalan sore. Mereka berjalan pelan, tanpa tujuan. Ayah tidak bertanya banyak. Hanya menemani. Rara berkata tiba-tiba,

“Ayah, kalau tidak tahu mau jadi apa, itu salah ya?”

Ayah berhenti sejenak. Lalu duduk di bangku taman.

“Tidak,” kata Ayah.

“Banyak orang dewasa juga belum tahu.”

Rara menoleh.

“Benarkah?”

Ayah tersenyum kecil.

“Iya. Ada yang tahu perannya hilang di tengah jalan.”

Rara memikirkan itu. Malam itu, Rara menulis lagi.

“Kata Ayah, tidak tahu tidak selalu salah.”

Tulisan itu membuat dadanya sedikit lebih hangat. Hari-hari berlalu. Rara masih belum tahu ingin menjadi apa. Tapi ia mulai tahu satu hal: Ia suka menggambar. Ia suka duduk diam. Ia suka memperhatikan.

Ia tidak memberi nama pada itu. Ia hanya melakukannya. Dan perlahan, rasa kosong itu tidak lagi menakutkan. Ia masih ada. Tapi tidak sedingin dulu.

Rara belajar bahwa kehilangan peran tidak selalu berarti kehilangan diri. Kadang, itu hanya tanda bahwa diri sedang berubah.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

1. Tidak semua anak harus cepat tahu perannya

Kebingungan adalah bagian alami dari tumbuh.

2. Identitas bukan hanya soal profesi

Anak belajar bahwa “siapa aku” lebih luas dari “akan jadi apa”.

3. Memberi ruang lebih penting daripada jawaban

Kehadiran orang dewasa yang tenang membantu anak merasa aman.

4. Kehilangan eksistensi bisa terjadi sejak dini

Dan bisa ditangani dengan pendampingan lembut.

5. Perubahan tidak selalu perlu diberi nama

Anak boleh tumbuh tanpa label.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url