Rara dan Hujan Pagi

Sumber Gambar: AI Generated

Langit pagi itu tidak gelap, tapi juga tidak sepenuhnya terang. Rara menatap ke luar jendela. Ia merasa sesuatu akan datang, meski belum ada tanda apa-apa.

Rara dan Hujan Pagi

Pagi itu berbeda.

Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Tidak ada angin yang berlari, tidak ada matahari yang hangat. Semua seperti sedang menunggu.

Rara berdiri di depan jendela kamarnya. Ia belum membuka jendela. Hanya memegang gagangnya, pelan.

“Akan hujan?” gumamnya.

Langit tampak abu-abu lembut. Bukan gelap seperti sore, tapi cukup untuk membuat cahaya menjadi pelan.

Rara membuka jendela sedikit. Udara masuk perlahan. Tidak membawa suara apa pun, hanya rasa sejuk yang tipis.

Ia tidak tahu kenapa, tapi pagi itu ia tidak ingin terburu-buru.

Biasanya, Rara akan langsung ke dapur, lalu duduk, lalu bertanya ini dan itu. Tapi hari ini, ia hanya berdiri. Menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa.

Lalu, suara itu datang.

“Tuk…”

Satu titik air jatuh di atas daun.

Rara menoleh cepat.

“Tuk… tuk…”

Beberapa tetes lagi menyusul.

Rara membuka jendela lebih lebar. Tangannya sedikit basah. Ia tersenyum kecil.

“Hujan,” katanya pelan.

Hujan tidak turun deras. Tidak juga cepat. Ia datang perlahan, satu-satu, seperti sedang memastikan sesuatu.

Rara duduk di dekat jendela. Ia tidak keluar. Ia hanya memperhatikan.

Tetesan air jatuh ke tanah. Sebagian mengenai daun. Sebagian lagi jatuh ke genteng, lalu mengalir pelan.

Tidak ada suara keras. Tidak ada petir. Hanya bunyi kecil yang berulang.

“Tuk… tuk… tuk…”

Rara mendengarkan.

Entah kenapa, suara itu terasa menenangkan. Seperti seseorang sedang mengetuk pintu dengan sangat pelan, hanya untuk memastikan ia ada.

Di dapur, Ibu sedang menutup beberapa wadah. Rara berjalan mendekat.

“Bu, hujan,” katanya.

Ibu mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, hujan.”

Rara duduk di kursi. Ia menatap ke luar melalui pintu yang sedikit terbuka.

“Hujannya pelan sekali,” kata Rara.

Ibu menuang air hangat ke dalam cangkir.

“Tidak semua hujan harus deras,” jawabnya.

Rara diam.

Ia kembali mendengarkan suara hujan. Tidak berubah. Tetap pelan. Tetap teratur.

“Kenapa hujan datang sekarang, Bu?” tanya Rara.

Ibu tidak langsung menjawab. Ia duduk di samping Rara.

“Mungkin karena sekarang waktu yang tepat,” katanya.

Rara mengerutkan dahi sedikit.

“Tapi siapa yang tahu waktu yang tepat?”

Ibu tersenyum lembut.

“Ada yang mengatur semuanya.”

Rara tidak bertanya lagi.

Ia kembali melihat ke luar. Tanah mulai basah. Daun terlihat lebih segar. Bahkan udara di sekitarnya terasa lebih ringan.

Rara meletakkan tangannya di dekat jendela. Tetesan air mengenai ujung jarinya.

Dingin. Tapi menyenangkan.

Rara tidak tahu kenapa hujan datang hari ini. Ia juga tidak tahu kenapa hujan tidak datang kemarin. Tapi pagi ini, hujan terasa pas.

Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lama. Tidak terlalu banyak. 

Cukup.

Rara menarik napas pelan.

Ia merasa seperti pagi ini diatur dengan baik. Seperti semua datang di waktu yang tepat, meski ia tidak mengerti caranya.

Ia tidak merasa perlu bertanya lagi.

Hujan terus turun, tetap pelan.

Rara mengambil sapu kecil dan membersihkan sedikit air yang masuk ke teras. Ia tidak merasa terganggu. Justru ia merasa sedang melakukan sesuatu bersama hujan.

Bukan melawan. Tapi mengikuti.

Beberapa saat kemudian, hujan mulai berhenti.

Tidak ada tanda besar. Tidak ada perubahan mendadak. Hanya… berhenti.

Rara menatap ke luar. Tanah basah. Daun bersih. Udara segar. Seperti ada yang baru saja merapikan pagi.

Rara berdiri di depan pintu. Ia melangkah keluar sedikit. Menghirup udara yang masih dingin.

Ia menutup mata. Tenang. Tidak ada yang ia kejar. Tidak ada yang ia tunggu. Semua sudah datang, lalu selesai, dengan cara yang tidak ia pahami. Dan itu tidak apa-apa. 

Rara membuka mata. Ia tersenyum kecil.

“Hujannya tahu kapan datang,” bisiknya.

Ia tidak tahu bagaimana caranya. Tapi ia tahu satu hal:

Pagi ini terasa cukup. Dan cukup itu membuatnya tenang.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa segala sesuatu terjadi pada waktu yang tepat
  2. Mengenalkan konsep bahwa ada yang mengatur kehidupan, tanpa penjelasan abstrak
  3. Melatih anak menerima bahwa tidak semua harus dipahami
  4. Menumbuhkan rasa tenang, percaya, dan tidak gelisah
  5. Mengenalkan rasa bahwa ketenangan adalah karunia

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url