Rara dan Angin Pagi

Sumber Gambar: AI Generated

Pagi itu, Rara berdiri di depan jendela. Rambutnya bergerak pelan, padahal tidak ada siapa-siapa yang meniupnya. Rara diam. Ia merasa ada sesuatu lewat, tapi tak bisa ia lihat.

Rara tinggal di rumah kecil yang halamannya tidak terlalu luas. Di sana ada satu pohon mangga, satu bangku kayu, dan pot bunga yang sering ia siram sendiri. 

Setiap pagi, Rara punya kebiasaan yang sama: membuka jendela kamarnya dan berdiri sebentar.

Bukan untuk apa-apa. Hanya berdiri.

Pagi itu, langit berwarna biru pucat. Matahari belum tinggi. Udara terasa sejuk, berbeda dengan siang yang sering panas. Saat Rara membuka jendela, ia merasakan sesuatu menyentuh pipinya.

“Dingin,” gumamnya pelan.

Rambut Rara bergerak. Ujung bajunya ikut berkibar. Padahal halaman sedang sepi. Tidak ada orang lewat. Tidak ada kipas menyala. Tapi rasa itu ada.

Rara menutup mata sebentar.

Angin pagi.

Rara tidak tahu dari mana angin datang. Ia juga tidak tahu ke mana angin pergi. Tapi setiap pagi, angin itu selalu ada. Datang sebentar, lalu hilang.

Rara duduk di tepi tempat tidurnya. Ia memikirkan angin itu sambil mengikat rambutnya.

“Kenapa angin selalu datang pagi?” pikirnya.

Di dapur, Ibu sedang menyiapkan air hangat. Rara berjalan pelan mendekat.

“Bu,” kata Rara, “angin itu kenapa ya nggak kelihatan?”

Ibu tersenyum. Ia menuang air ke dalam cangkir.

“Kalau kelihatan, namanya bukan angin,” jawab Ibu lembut.

Rara mengernyitkan dahi.

“Tapi angin itu ada, kan?”

Ibu mengangguk.

“Ada. Kalau tidak ada, rambutmu tidak akan bergerak.”

Rara terdiam. Ia menatap cangkir di tangannya. Uap tipis naik ke udara, lalu menghilang.

“Uap juga nggak kelihatan lama,” kata Rara pelan.

Ibu tersenyum lebih lebar.

“Banyak hal yang tidak selalu bisa kita lihat, tapi bisa kita rasakan.”

Rara membawa cangkirnya ke teras. Ia duduk di bangku kayu dekat pohon mangga. Angin pagi kembali datang. Kali ini lebih pelan. Daun mangga bergerak, menimbulkan suara kecil.

Rara memejamkan mata lagi.

Angin itu tidak bicara. Tidak bertanya. Tidak menyuruh apa-apa. Tapi entah kenapa, Rara merasa tenang.

Biasanya, Rara suka bertanya banyak hal. Tapi pagi ini, ia tidak ingin bertanya. Ia hanya ingin duduk.

Seekor kucing lewat di halaman. Kucing itu berjalan santai, lalu berhenti sebentar di bawah pohon. Angin menyentuh bulunya. Kucing itu menutup mata, seperti Rara.

“Kucing juga suka angin pagi,” pikir Rara.

Waktu berjalan pelan. Tidak ada agenda khusus hari itu. Tidak ada yang harus dikejar. Rara hanya duduk, menghirup udara, dan mendengar suara daun.

Ia teringat kemarin sore, saat hujan turun tiba-tiba. Rara tidak sempat berteduh dan bajunya basah. Tapi pagi ini, angin datang dengan lembut, seolah berkata, “Sekarang tenang.”

Rara tidak mendengar suara itu. Tapi ia merasa.

“Angin selalu tahu kapan harus pelan,” gumamnya.

Rara berdiri dan mengambil sapu kecil. Ia menyapu daun-daun kering yang jatuh di teras. Angin membantu dengan caranya sendiri. Beberapa daun bergerak, lebih mudah disapu.

Rara tersenyum kecil.

Ia tidak berkata apa-apa. Tapi di dalam hatinya, ada rasa hangat. Seperti ditemani, tapi tidak ramai. Seperti dijaga, tapi tidak dikekang.

Setelah selesai menyapu, Rara duduk lagi. Kali ini ia menengadah ke langit. Awan bergerak perlahan.

“Langit juga bergerak tanpa suara,” pikir Rara.

Ia mulai memahami sesuatu, meski belum bisa menjelaskannya. Tidak semua yang penting harus terlihat. Tidak semua yang menjaga harus bersuara.

Angin pagi tidak meminta terima kasih. Tidak menunggu pujian. Ia datang, lalu pergi. Tapi setiap kali datang, ia membuat pagi terasa lebih ringan.

Rara menutup matanya sekali lagi.

Di dalam diam itu, Rara merasa aman.

Ia tidak tahu kata apa yang tepat untuk perasaan itu. Tapi ia tahu satu hal: pagi ini baik-baik saja. Dan itu cukup.

Ketika Ibu memanggil dari dalam rumah, Rara bangkit.

“Iya, Bu,” jawabnya.

Angin pagi masih ada, meski semakin pelan. Rara melangkah masuk ke rumah dengan langkah ringan.

Hari baru dimulai.

Dengan tenang.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa tidak semua yang penting harus terlihat
  2. Anak dikenalkan pada rasa dijaga dan ditenangkan tanpa konsep abstrak
  3. Mengajarkan kehadiran Allah secara implisit: melalui keteraturan, kelembutan, dan ketenangan
  4. Melatih anak untuk diam, merasakan, dan tidak selalu bertanya
  5. Menumbuhkan rasa aman tanpa ketergantungan pada penjelasan panjang

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url