Rara dan Malam Tenang

Sumber Gambar: AI Generated

Malam tidak membawa cahaya. Tapi anehnya, tidak semua gelap terasa menakutkan.

Rara dan Malam Tenang

Hari itu terasa cukup panjang. Rara bermain di halaman, menyiram bunga, lalu duduk sebentar di bawah pohon mangga. Tidak ada yang istimewa, tapi ia merasa lelah dengan cara yang nyaman.

Saat langit mulai berubah warna, Rara masuk ke dalam rumah. Sore pelan-pelan berganti malam.

Langit yang tadi biru menjadi ungu, lalu semakin gelap. Suara di luar mulai berkurang. Burung tidak lagi terdengar. Angin juga lebih pelan.

Rara duduk di dekat jendela. Ia memperhatikan langit yang semakin gelap.

“Kenapa malam harus gelap ya ?” gumamnya.

Ia tidak takut. Hanya bertanya. Lampu di dalam rumah dinyalakan. Cahaya hangat menyebar. Tapi di luar, tetap gelap. Rara memeluk lututnya.

Ia pernah merasa sedikit takut pada malam. Bukan karena sesuatu yang jelas. Hanya karena… tidak terlihat apa-apa.

Tapi malam ini terasa berbeda. Lebih pelan. Lebih diam. Seperti tidak ingin mengganggu.

Ibu datang membawa selimut tipis dan meletakkannya di bahu Rara.

“Dingin?” tanya Ibu.

Rara mengangguk sedikit.

“Malam itu gelap ya, Bu,” kata Rara.

Ibu duduk di sampingnya.

“Iya.”

“Kenapa nggak terang saja seperti siang?” tanya Rara.

Ibu tersenyum lembut.

“Kalau selalu terang, kita tidak punya waktu untuk beristirahat.”

Rara terdiam. Ia melihat ke luar lagi. Tidak ada yang terlihat jelas. Hanya bayangan pohon dan langit gelap yang luas.

“Tapi… gelapnya tidak marah,” kata Rara pelan.

Ibu menoleh.

“Maksudnya?”

“Gelapnya diam saja,” jawab Rara.

Ibu tersenyum. Rara memikirkan itu. Malam tidak mengejar. Tidak meminta. Tidak membuatnya harus melakukan sesuatu. Malam hanya… ada.

Rara berdiri dan membuka jendela sedikit. Udara malam masuk. Lebih dingin dari pagi. Tapi juga lebih tenang.

Ia mendengar suara kecil mungkin serangga, mungkin angin yang sangat pelan. Tidak ramai. Tidak mengganggu.

Rara menutup mata sebentar. Ia tidak melihat apa-apa. Tapi justru itu membuatnya lebih tenang. Tidak ada yang harus dilihat. Tidak ada yang harus diperhatikan. Seperti diberi waktu untuk berhenti.

Rara membuka mata lagi.

“Kalau malam datang, berarti waktunya istirahat ya…” katanya pelan.

Ibu mengangguk.

Rara menarik selimutnya sedikit lebih rapat. Ia duduk lebih dekat dengan Ibu.

Di luar, langit tetap gelap. Tapi Rara tidak merasa sendirian. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Tapi malam terasa seperti sesuatu yang menjaga bukan menakutkan. Seperti seseorang yang berkata tanpa suara,

“Sekarang tidak apa-apa untuk berhenti.”

Rara berdiri. Ia berjalan ke kamarnya. Lampu menyala lembut. Tempat tidurnya rapi. Rara naik ke tempat tidur dan berbaring. 

Ia menatap langit-langit sebentar, lalu memejamkan mata. Tidak ada yang perlu ia pikirkan. Hari sudah selesai. Malam sudah datang. Dan semuanya terasa cukup.

Di luar, gelap tetap ada. Tapi di dalam hati Rara, ada rasa yang tenang. Ia tertidur perlahan.

Malam tidak berubah. Tetap gelap. Tetap diam. Tapi kini, Rara tahu: Gelap juga bisa menjadi tempat yang aman.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa gelap tidak selalu menakutkan
  2. Mengenalkan bahwa istirahat adalah bagian dari kehidupan yang dijaga
  3. Menanamkan rasa bahwa tidak semua yang tidak terlihat itu berbahaya
  4. Mengajarkan bahwa ketenangan juga hadir dalam diam dan gelap
  5. Membantu anak merasa aman bahkan saat tidak melihat apa-apa

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url