Rara dan Pagi yang Datang

 
Sumber Gambar: AI Generated

Rara tidak pernah memanggil pagi. Tapi setiap hari, pagi selalu datang. Tanpa terlambat. Tanpa lupa.

Rara dan Pagi yang Datang

Suatu malam, Rara tidur sedikit lebih lama dari biasanya.

Ia tidak langsung terlelap. Ia memandangi langit-langit kamarnya. Gelap. Sunyi. Tidak ada suara, kecuali sesekali angin yang lewat di luar.

Rara memeluk bantalnya.

“Kalau aku tidur sekarang, nanti pagi datang nggak ya?” pikirnya pelan.

Ia tidak tahu kenapa pertanyaan itu muncul. Tapi malam itu terasa berbeda. Lebih hening dari biasanya. Rara menutup mata. Ia tidak sempat menjawab pertanyaannya sendiri.

Pagi datang tanpa suara.

Perlahan, cahaya masuk melalui celah jendela. Tidak langsung terang. Hanya sedikit demi sedikit, seperti seseorang membuka pintu dengan hati-hati. Rara masih terlelap.

Burung kecil mulai bersuara di luar. Daun bergerak pelan. Udara terasa lebih segar. Semua datang meski Rara belum bangun.

Beberapa saat kemudian, Rara membuka matanya. Ia tidak langsung duduk. Ia hanya berbaring, memperhatikan cahaya yang jatuh di dinding kamarnya.

“Oh… sudah pagi,” bisiknya.

Rara duduk perlahan. Ia melihat ke luar jendela. Langit berwarna lembut. Tidak terlalu terang, tidak gelap.

Sama seperti kemarin. Dan kemarin lagi. Rara berjalan mendekat ke jendela. Ia membukanya sedikit. Udara pagi masuk. Sejuk. Tenang.

Rara menarik napas panjang. Ia tiba-tiba teringat pertanyaannya semalam.

“Pagi tetap datang…” katanya pelan.

Padahal semalam ia tidak meminta. Tidak memastikan. Bahkan ia tertidur sebelum benar-benar memikirkan jawabannya. Tapi pagi tetap ada.

Di dapur, Ibu sudah menyiapkan air hangat. Seperti biasa. Rara berjalan pelan.

“Bu,” katanya, “pagi itu selalu datang ya?”

Ibu tersenyum sambil menuang air.

“Iya.”

“Kenapa nggak pernah lupa?” tanya Rara lagi.

Ibu duduk di sampingnya.

“Karena ada yang mengatur semuanya dengan baik.”

Rara memegang cangkirnya. Hangat. Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya memikirkan sesuatu dalam diam.

Setiap hari, Rara bangun dan pagi sudah ada. Setiap hari, langit berubah dari gelap menjadi terang. Setiap hari, udara pagi terasa sejuk. Tidak pernah tertukar. Tidak pernah terlambat.

Rara berjalan ke teras. Ia duduk di bangku kayu. Pohon mangga di depannya tampak segar. Daunnya bergerak pelan. Seekor burung kecil hinggap sebentar, lalu terbang lagi.

Semua terasa biasa. Tapi hari ini, Rara melihatnya sedikit berbeda.

“Semua ini datang sendiri…” pikirnya.

Rara tidak melakukan apa-apa untuk membuat pagi datang. Ia tidak menyalakan apa pun. Tidak menggerakkan apa pun. Tapi pagi tetap hadir.

Rara menaruh tangannya di atas bangku. Ia merasakan permukaan kayu yang dingin. Ia tidak merasa bingung. Ia justru merasa tenang.

Seperti ada sesuatu yang selalu berjalan dengan baik, meski ia tidak mengerti bagaimana caranya.

Rara tidak perlu memastikan pagi akan datang. Pagi datang dengan sendirinya. Dan itu membuatnya merasa aman.

Ia tidak harus mengatur semuanya. Ia tidak harus tahu semuanya. Cukup bangun dan pagi sudah menunggunya.

Rara tersenyum kecil. Ia berdiri, lalu masuk kembali ke dalam rumah. Langkahnya ringan. Hari itu, Rara tidak banyak bertanya. Tidak banyak berpikir keras.

Ia hanya menjalani harinya seperti biasa. Tapi di dalam hatinya, ada rasa baru yang lembut. Rasa bahwa hidup ini berjalan dengan cara yang baik. Dan ia tidak sendirian di dalamnya.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa keteraturan hidup adalah bagian dari penjagaan
  2. Mengenalkan bahwa ada yang mengatur alam dengan sempurna
  3. Melatih rasa percaya tanpa harus memahami semuanya
  4. Menumbuhkan rasa aman dan tidak cemas terhadap masa depan
  5. Mengajarkan bahwa tidak semua hal bergantung pada diri kita

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url