Rara dan Hari Tenang
![]() |
| Sumber Gambar: Canva Edited |
"Tidak semua hari ingin dikenang. Ada hari yang hanya ingin dijalani. Dan itu tidak apa-apa."
Hari itu tidak dimulai dengan apa pun yang istimewa. Tidak ada alarm berbunyi keras. Tidak ada rencana tertulis di papan. Tidak ada janji yang harus dikejar.
Rara bangun ketika cahaya pagi masuk perlahan ke kamarnya. Ia tidak terburu-buru. Ia duduk di tepi tempat tidur, membiarkan kakinya menyentuh lantai. Dingin. Nyata. Ia tersenyum kecil.
Di dapur, rumah masih sepi. Ibu belum banyak bergerak. Ayah membaca pelan. Rara menuang air minum sendiri.
“Ada rencana hari ini?” tanya Ibu.
Rara menggeleng.
“Tidak,” katanya.
“Hari ini tenang.”
Ibu tidak bertanya lagi. Ia mengangguk, seolah mengerti.
Rara sarapan pelan. Ia mengunyah dengan sadar. Tidak sambil memikirkan apa-apa. Setelah itu, ia keluar rumah.
Langit cerah tapi tidak terlalu terang. Angin bergerak perlahan. Rara duduk di tangga depan. Ia memperhatikan daun yang jatuh satu per satu. Tidak ada yang harus dicatat. Tidak ada yang harus dipahami. Hanya ada.
Beberapa waktu kemudian, Rara berjalan ke lapangan kecil dekat rumah. Biasanya, tempat itu ramai. Anak-anak berlari. Suara tertawa bertabrakan. Hari itu, lapangan hampir kosong. Hanya ada satu ayunan yang bergerak pelan karena angin.
Rara duduk di sana. Ia tidak bermain. Ia hanya duduk. Dulu, Rara sering merasa aneh saat tidak melakukan apa-apa. Ia merasa harus bergerak. Harus menghasilkan sesuatu. Hari itu tidak.
Ia membiarkan waktunya lewat tanpa diminta. Seekor kucing lewat dan berhenti di dekatnya. Duduk. Diam.
Rara mengulurkan tangannya. Kucing itu tidak pergi. Mereka duduk bersama, tanpa saling meminta.
Saat siang datang, Rara pulang. Ia membuka jendela kamarnya. Cahaya masuk lembut. Ia mengambil buku kecilnya.
Buku itu tidak penuh cerita besar. Isinya hari-hari biasa. Ia membuka halaman terakhir. Tidak menulis apa pun. Ia menutup buku itu lagi.
Siang itu, Rara tidur sebentar. Tanpa mimpi. Tanpa gelisah. Ketika bangun, ia tidak bingung harus apa. Ia hanya bangun.
Sore datang dengan warna keemasan. Rara membantu Ibu menyapu halaman. Tidak banyak bicara. Tidak banyak tertawa. Tapi rasanya hangat.
Ayah menyiram tanaman.
“Capek?” tanya Ayah.
Rara menggeleng.
“Tidak,” katanya.
“Tenang.”
Ayah tersenyum.
“Itu juga bentuk cukup,” katanya.
Rara mengangguk.
Malam turun pelan. Lampu rumah dinyalakan satu per satu Rara duduk di ruang tamu. Ia mendengar suara jam berdetak. Dulu, suara itu membuatnya gelisah. Sekarang, suara itu seperti teman.
Sebelum tidur, Rara berdiri di depan cermin. Ia melihat dirinya. Tidak ada yang berubah secara besar. Tidak ada yang istimewa. Tapi ia mengenali wajah itu. Ia tidak ingin menjadi lebih cepat. Tidak ingin menjadi lebih hebat.
Ia ingin tidur. Di tempat tidur, Rara menarik selimut. Ia mematikan lampu. Dalam gelap, tidak ada pikiran yang perlu diselesaikan.
Ia tidak bertanya tentang besok. Ia tidak merencanakan apa pun. Hari itu selesai, dengan caranya sendiri. Dan Rara merasa utuh.
Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)
- Anak belajar bahwa ketenangan bukan kekosongan, tapi kebutuhan.
- Hidup tidak harus selalu penuh aktivitas agar bermakna.
- Diam, pelan, dan biasa adalah bagian sehat dari kehidupan.
- Anak boleh berhenti tanpa merasa bersalah.
- Rasa utuh datang saat anak diterima apa adanya, bahkan di hari yang sepi.
