Rara Menjadi Dirinya
![]() |
| Sumber Gambar: Canva Edited |
Ada saat ketika seseorang berhenti bertanya, “harus menjadi siapa,” dan mulai berkata, “aku di sini.”
Pagi itu, Rara bangun dengan perasaan yang tenang. Tidak ada pikiran yang berisik. Tidak ada rencana besar.
Ia duduk di tempat tidur dan menarik napas panjang. Ada hari-hari ketika Rara bangun dengan banyak pertanyaan. Hari itu tidak.
Ia berjalan ke kamar mandi, lalu ke dapur. Ibu sedang menyiapkan sarapan seperti biasa.
“Kamu terlihat segar,” kata Ibu.
Rara mengangguk.
“Aku merasa biasa.”
Ibu tersenyum.
“Itu bagus.”
Rara makan pelan. Ia memperhatikan rasa makanannya. Tidak ada yang istimewa. Tapi cukup.
Di sekolah, hari berjalan seperti biasa. Tidak ada pengumuman penting. Tidak ada tugas besar.
Rara duduk di bangkunya dan memperhatikan teman-temannya. Ada yang selalu ingin paling cepat. Ada yang selalu ingin paling benar. Ada yang selalu ingin diperhatikan.
Dulu, Rara sering melihat mereka sambil bertanya dalam hati, aku seharusnya seperti siapa?, Hari itu, ia tidak. Ia hanya melihat.
Saat pelajaran seni, Bu Guru meminta anak-anak membuat sesuatu dari kertas.
“Boleh apa saja,” kata Bu Guru.
Anak-anak mulai sibuk. Ada yang membuat kapal. Ada yang membuat bunga. Ada yang membuat bentuk yang rumit.
Rara memegang kertasnya lama. Ia teringat semua hal yang pernah ia rasakan. Hari kosong. Menunggu. Diam. Tidak tahu harus jadi apa.
Ia melipat kertas itu sederhana. Tidak rapi. Tidak simetris. Hanya lipatan-lipatan kecil yang mengikuti tangannya.
Hasilnya tidak jelas bentuknya. Bukan hewan. Bukan benda. Ketika Bu Guru datang, Rara mengangkat hasil karyanya.
“Kamu membuat apa?” tanya Bu Guru.
Rara melihat kertas itu.
“Aku membuat… aku,” jawabnya pelan.
Bu Guru terdiam sejenak. Lalu tersenyum.
“Terima kasih sudah menunjukkannya,” kata Bu Guru.
Tidak ada tawa. Tidak ada penilaian. Rara duduk kembali. Dadanya terasa hangat.
Saat istirahat, seorang teman mendekat.
“Kok punyamu aneh?” katanya.
Rara menoleh.
“Iya,” jawabnya.
“Kamu tidak mau bikin yang seperti kami?”
Rara menggeleng.
“Tidak.”
Temannya pergi. Rara tidak merasa sendirian. Ia merasa selesai dengan pertanyaan itu.
Sore hari, Rara pulang dan duduk di teras rumah. Angin sore bertiup pelan. Ayah duduk di sampingnya.
“Kamu kelihatan tenang akhir-akhir ini,” kata Ayah.
Rara berpikir sebentar.
“Dulu aku sering bingung,” katanya.
“Aku ingin seperti orang lain.”
Ayah mendengarkan.
“Sekarang?” tanya Ayah.
Rara melihat ke halaman.
“Sekarang aku ingin seperti aku.”
Ayah mengangguk.
“Itu perjalanan yang panjang,” kata Ayah.
Rara tersenyum kecil.
“Iya,” katanya. “Tapi aku sampai.”
Malam tiba. Rara membuka buku kecilnya. Ia membaca halaman-halaman lama. Tentang peran yang hilang. Tentang kursi kosong. Tentang menunggu. Ia tidak ingin mengubah apa pun.
Ia menulis satu kalimat baru:
“Aku tidak menjadi siapa-siapa. Aku menjadi diriku.”
Tulisan itu sederhana. Tapi ketika ia membacanya, Rara merasa utuh.
Ia mematikan lampu. Dalam gelap, ia tidak lagi mencari. Ia beristirahat.
Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)
- Anak belajar bahwa menjadi diri sendiri bukan sikap egois, melainkan sehat.
- Tidak semua perbedaan perlu diperbaiki.
- Proses mengenal diri lebih penting daripada hasil yang seragam.
- Penerimaan diri adalah dasar kepercayaan jangka panjang.
- Anak yang diterima tidak perlu membuktikan dirinya terus-menerus.
.png)