Rara dan Cara Sendiri
![]() |
| Sumber Gambar: Canva Edited |
"Tidak semua orang sampai dengan langkah yang sama. Ada yang cepat. Ada yang pelan. Dan semuanya tetap sampai."
Pagi itu, Rara berjalan ke sekolah dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Bukan karena ia terlambat. Bukan karena ia sakit. Ia hanya ingin berjalan seperti itu.
Di sepanjang jalan, teman-temannya berlarian. Ada yang mendahului. Ada yang tertawa keras.
Rara berjalan di pinggir, memperhatikan daun kering yang tertiup angin. Ia tidak merasa tertinggal. Ia juga tidak ingin mengejar.
Di kelas, Bu Guru membagikan kertas gambar.
“Hari ini kita menggambar bebas,” kata Bu Guru.
“Gambar apa saja yang kalian suka.”
Anak-anak langsung sibuk. Ada yang menggambar rumah besar. Ada yang menggambar mobil. Ada yang menggambar dirinya sedang juara.
Rara memegang pensilnya lama. Ia melihat kertas kosong itu. Dulu, kertas kosong membuatnya cemas. Takut gambarnya tidak bagus. Takut berbeda. Hari itu, tidak.
Rara mulai menggambar garis pelan-pelan. Tidak lurus. Tidak simetris. Ia menggambar jalan kecil. Jalan yang berbelok. Tidak langsung ke tujuan.
Di ujung jalan itu, Rara menggambar dirinya sendiri. Sedang berjalan. Sendiri. Tapi tidak sendirian.
Bu Guru berkeliling melihat hasil gambar murid-muridnya. Ketika sampai di meja Rara, Bu Guru berhenti.
“Kamu menggambar apa?” tanya Bu Guru.
“Jalan,” jawab Rara.
“Jalanku.”
Bu Guru tersenyum.
“Bagus.”
Tidak ada tambahan. Tidak ada koreksi. Itu cukup.
Saat istirahat, beberapa teman berkumpul.
“Kok gambarmu beda?” tanya seorang teman.
Rara melihat gambarnya.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Kamu tidak mau gambar yang lain?”
Rara berpikir sebentar.
“Ini yang aku mau.”
Temannya mengangkat bahu dan pergi. Rara tidak merasa sedih. Ia juga tidak merasa menang. Ia hanya merasa… tepat.
Siang hari, Rara pulang. Di rumah, ia meletakkan tas dan duduk di teras. Angin siang bertiup hangat. Ibu keluar membawa minum.
“Hari ini di sekolah bagaimana?” tanya Ibu.
Rara menceritakan gambarnya. Tentang jalan yang tidak lurus. Ibu mendengarkan sampai selesai.
“Apakah kamu suka gambarnya?” tanya Ibu.
Rara mengangguk.
“Iya.”
“Itu yang penting,” kata Ibu.
Sore hari, Rara bermain sendiri di halaman. Ia menyusun batu kecil. Tidak menjadi menara. Tidak menjadi bentuk tertentu. Hanya susunan yang terasa pas baginya.
Ayah lewat dan melihat.
“Kamu sedang apa?” tanya Ayah.
“Aku menyusun,” jawab Rara.
“Dengan caraku.”
Ayah duduk sebentar. Melihat susunan itu.
“Kelihatannya tenang,” kata Ayah.
Rara tersenyum kecil.
Malam datang. Setelah makan, Rara membuka buku kecilnya. Ia membaca tulisan-tulisan lama. Tentang hari kosong. Tentang menunggu. Tentang tidak tahu harus jadi apa. Ia tidak menghapus apa pun.
Ia menulis satu halaman baru:
“Dulu aku ingin seperti yang lain. Sekarang aku ingin seperti diriku sendiri.”
Tulisan itu tidak rapi. Tapi jujur. Sebelum tidur, Rara memikirkan hari itu. Ia menyadari sesuatu. Menemukan diri bukan tentang berubah menjadi orang lain. Bukan juga tentang menemukan jawaban besar.
Kadang, itu hanya tentang berhenti membandingkan. Berhenti memaksa langkah. Dan mulai berjalan dengan cara sendiri.
Rara mematikan lampu. Dalam gelap, ia tidak merasa hilang. Ia merasa pulang.
Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)
- Setiap anak memiliki ritme dan jalannya sendiri.
- Membandingkan justru menjauhkan anak dari dirinya.
- Penerimaan diri tumbuh dari penghargaan atas pilihan personal.
- Anak belajar percaya pada prosesnya, bukan hasil orang lain.
- Menjadi diri sendiri adalah puncak dari perjalanan batin yang sehat.
.png)