Rara dan Kata Cukup

Sumber Gambar; Canva Edited

"Ada saat ketika keinginan berhenti menambah, bukan karena lelah, tetapi karena akhirnya merasa cukup."

Pagi itu, Rara bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena jam berbunyi. Bukan karena harus pergi ke mana-mana. Ia bangun karena matanya terbuka begitu saja.

Rara duduk di tempat tidur dan menatap kamarnya. Tidak ada yang berubah. Tempat tidurnya sama. Rak bukunya masih berisi buku-buku yang sama. Tas sekolahnya tergantung di tempatnya. Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda.

Rara tidak merasa ingin menambah apa pun. Biasanya, ketika bangun pagi, pikirannya penuh. Ingin membaca buku baru. Ingin menggambar lebih bagus. Ingin melakukan sesuatu agar harinya terasa berarti. Hari itu tidak.

Ia berdiri, merapikan selimut, lalu berjalan ke dapur. Ibu sedang menyiapkan sarapan.

“Kamu bangun cepat,” kata Ibu.

Rara mengangguk.

“Iya.”

“Kamu mau apa hari ini?”

Rara membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia berpikir sebentar.

“Tidak tahu,” jawabnya.

“Tapi rasanya tidak ingin menambah apa-apa.”

Ibu menoleh. Tidak heran. Tidak khawatir.

“Baik,” kata Ibu.

Rara duduk di meja makan. Ia makan perlahan. Setelah itu, ia duduk di ruang tamu. Ia tidak membuka buku. Tidak mengambil pensil. Tidak menyalakan apa pun. Ia hanya duduk.

Awalnya, Rara merasa aneh. Seperti sedang melanggar aturan yang tidak tertulis. Seolah-olah ia seharusnya melakukan sesuatu.

Ia mendengar suara di kepalanya berkata, kalau tidak melakukan apa-apa, berarti kurang.

Rara berdiri dan berjalan ke jendela. Ia melihat ke luar. Ada anak-anak bermain. Ada orang dewasa berjalan cepat. Ada suara motor lewat. Semua terlihat sibuk. Rara kembali duduk.

Ia menutup matanya sebentar. Ia mendengarkan napasnya sendiri. Satu… dua… Tidak ada yang kurang.

Siang hari, Rara membuka lemari kecilnya. Ia melihat mainan-mainan lama. Beberapa sudah rusak. Beberapa sudah jarang dimainkan.

Dulu, Rara sering berpikir ia butuh yang baru. Mainan baru. Buku baru. Cerita baru. Hari itu, ia tidak.

Ia mengeluarkan satu mainan lama. Boneka kecil yang warnanya sudah pudar. Ia duduk di lantai dan memeluk boneka itu. Tidak ada rasa ingin mengganti. Hanya rasa cukup.

Sore hari, Ayah pulang.

“Kamu ngapain hari ini?” tanya Ayah.

Rara berpikir. Lalu menjawab jujur,

“Aku tidak melakukan banyak hal.”

Ayah tersenyum.

“Capek?”

Rara menggeleng.

“Tidak.”

Ayah duduk di samping Rara.

“Kamu kelihatan tenang,” kata Ayah.

Rara mengangguk pelan. Ia mencoba mencari kata yang tepat. Tidak mudah.

“Rasanya… cukup,” katanya akhirnya.

Ayah tidak tertawa. Tidak mengoreksi.

“Cukup itu bagaimana?” tanya Ayah.

Rara berpikir lama.

“Seperti… tidak perlu menambah,” jawabnya.

Malam datang. Lampu dinyalakan. Rara menulis di buku kecilnya. Tulisan tangannya pelan dan sederhana.

“Hari ini aku tidak menambah apa pun. Aku tidak jadi apa-apa. Dan aku tidak merasa kurang.”

Ia membaca ulang kalimat itu. Dadanya terasa hangat. Sebelum tidur, Rara mematikan lampu. Ia berbaring dan memandang langit-langit. Biasanya, sebelum tidur, pikirannya penuh rencana. Hari ini tidak. Ia tertidur dengan perasaan utuh.

Nilai yang Bisa Diambil (untuk Orang Tua)

  1. Anak belajar bahwa cukup adalah keadaan batin, bukan jumlah aktivitas.
  2. Tidak selalu harus berkembang, bertambah, atau bergerak.
  3. Merasa cukup membantu anak mengenali kebutuhan diri.
  4. Nilai diri tidak diukur dari pencapaian harian.
  5. Ini dasar penting untuk kesehatan mental jangka panjang.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url